Kamis, 26 September 2024

KEMAMPUAN KOMUNIKASI PEMIMPIN LEVEL MENENGAH YANG BURUK: HARUSKAH KARYAWAN MENGUTUK?

 KEGIATAN LITERASI 

Andi Purnawan

Praktisi HR & Personal Development Mentor

Source of picture: osc.medcom.id, 2021

Berkomunikasi tidak sekadar berbicara, namun ada sesuatu yang akan disampaikan. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian (transformasi) informasi baik itu berupa pesan, ide, maupun  gagasan dari seseorang / sekelompok orang yang ditujukan kepada seseorang / sekelompok orang (Coates, 2009). Pada umumnya penyampaian informasi tersebut dilakukan secara lisan maupun tertulis yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila seseorang tidak dapat menulis / berbicara maka ia dapat menggunakan cara lain untuk menyampaikan pesannya yakni dengan bahasa isyarat seperti tersenyum, gerak-gerik tubuh, menggelengkan / menganggukkan kepala, dan gerakan lainnya. Bahkan bahasa isyarat juga bisa ditampakkan dengan cara seseorang menggunakan baju dengan warna tertentu dan model tertentu (Todorović, Čuden, Košak & Toporišič, 2017), model rambut tertentu (Mesko & Bereczkei, 2004), atau menggunakan asesori tertentu.

Permasalahan komunikasi yang sering dibahas adalah kurang lancarnya komunikasi dalam lingkup organisasi / tempat bekerja. Bisa ditebak, proses komunikasi yang tidak efektif terjadi antara atasan dan atasan, atasan dan bawahan, serta bawahan dan bawahan. Perbedaan strata para aktor dalam organisasi menyebabkan mereka mempunyai ‘bahasa’ yang berbeda. Atasan mempunyai ‘bahasa’ yang menyiratkan tingginya kekuasaannya sehingga ia bisa menentukan nasib para timnya. Semua itu bisa tercermin dalam perilakunya ketika berkomunikasi  dengan tim atau antar-divisi. Tim menjadi merasa tidak punya harga diri, namun tidak berani keluar dari organisasi / mencari pekerjaan lainnya. Bila situasi manajemen pada organisasi buruk ini berlarut-larut, maka taruhannya adalah menurunnya kesehatan mental karyawan yang setia dan karyawan yang percaya diri akan segera keluar kemudian mencari pekerjaan lain. Dampak  selanjutnya  adalah  jumlah  Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersisa (setia) sangat tidak memadai dibandingkan dengan jumlah tugas yang harus diselesaikan. Akhirnya efisiensi pekerjaan akan menurun dan ironinya organisasi akan tutup karena para karyawannya tidak mampu bekerja dengan optimal (Ugwuzor, 2017).

Jadi dalam tulisan ini, persoalan yang akan dibahas adalah bagaimana strategi karyawan untuk mempertahankan status kesehatan mentalnya agar tetap sehat, ketika ia berada dalam organisasi dengan atasan yang cara berkomunikasinya sangat buruk. Kajian tentang usaha-usaha karyawan ini penting, karena dua alasan (Shinta, Widiantoro & Yosef, 2015). Pertama, karyawan adalah ujung tombak dari organisasi. Hal ini berarti karyawan yang sehat mentalnya akan merujuk pada organisasi yang juga sehat. Alasan kedua, karyawan berada dalam posisi subordinat sedangkan posisi pimpinan adalah superior. Orang-orang yang subordinat mempunyai lebih sedikit alternatif solusi bila menemui permasalahan daripada orang-orang superior, karena keberadaan sumber-sumber yang terbatas. Jadi tulisan ini lebih berpihak pada karyawan daripada pimpinan.

Pembahasan ini menarik karena persoalan komunikasi dalam organisasi ini terjadi pada pemimpin / atasan pada level menengah. Pada umumnya, pembahasan problem komunikasi terjadi pada pimpinan level tertinggi (Shinta et al., 2015). Pimpinan tertinggi yang bermasalah dalam hal perilaku dan komunikasi sering membuat para karyawan menjadi kebingungan, namun para karyawan tersebut cenderung untuk tidak segera keluar dari organisasi. Hal ini karena karyawan tidak setiap hari bertemu dengan pimpinan tertinggi. Pada pemimpin level menengah, seperti koordinator / mandor, perilaku / cara mereka berkomunikasi buruk sering membuat para karyawan tidak nyaman dan para karyawan cenderung berniat untuk keluar dari organisasi. Hal ini karena para karyawan hampir setiap hari bertemu dengan pimpinan level menengah. Pimpinan level menengah ini pada mulanya adalah karyawan biasa / rekan kerja karyawan, namun karena berprestasi bagus mereka diangkat menjadi pimpinan level menengah. Jadi pada awalnya, karyawan tersebut hanya mengurus prestasi kerjanya sendiri. Setelah diangkat menjadi pimpinan level menengah, maka mendadak tanggung jawabnya menjadi besar dan harus mengurus sekelompok karyawan dengan berbagai kepribadian yang berbeda-beda. Perbedaan ini kadangkala membuat pimpinan level menengah menjadi canggung. Para karyawan juga kebingungan dan merasa tidak sopan bila mengingatkan bekas rekan kerjanya akan pola komunikasinya yang canggung tersebut (Khurgin, 2016).

Apa yang bisa dilakukan karyawan ketika organisasi masa depan sudah berubah  pengelolaannya namun gaya komunikasi pimpinan masih tetap buruk? Usaha-usaha apa saja yang bisa dilakukan oleh sekolah dan perguruan tinggi untuk mempersiapkan SDM dalam menghadapi organisasi masa depan?”. Pada masa depan, organisasi akan berubah menjadi lebih kompleks bahkan bisa dikendalikan di rumah saja, lebih datar dalam struktur orgnisasinya, bahan produk harus bersertifikat pro-lingkungan hidup, dan produknya bisa dikirim ke seluruh dunia dengan mudah, murah dan cepat. Selain itu, karakteristik karyawan akan lebih bervariasi dalam hal etnis, bahasa, gender, dan agama (Riggio, 2003). Oleh karena itu karyawan yang setia pada organisasi meskipun pemimpinnya mempunyai pola komunikasi buruk, perlu memiliki ketrampilan-ketrampilan tertentu (Abbajay, 2018).

Ketrampilan pertama, pola komunikasi karyawan perlu diubah dari pemberian masukan menjadi pemberian persyaratan (make request). Bila pimpinan memberi instruksi, maka karyawan bersedia melakukan instruksi tersebut namun dengan berbagai persyaratan atau bahkan usulan yang membangun. Pimpinan menjadi tidak bisa sewenang-wenang memerintahkan suatu tugas dan alur komunikasi bisa jelas. Kedua, karyawan hendaknya membangun dukungan sosial yang kokoh dengan karyawan setia lainnya. Dukungan sosial ini akan menyehatkan mental. Ketiga, usaha-usaha menyehatkan fisik juga sangat penting. Oleh karena itu karyawan dianjurkan untuk sering berolah raga dan jumlah jam tidur hendaknya memadai. Keempat, karyawan bisa menjelajah kemungkinan untuk rotasi ke devisi lainnya yang mana pemimpinnya mempunyai pola komunikasi yang lebih baik. Kelima, karyawan melanjutkan pendidikannya atau minimal sering mengikuti pelatihan, workshop, bootcamp, atau serifikasi lainnya sehingga pengetahuan dan relasi sosialnya semakin luas dan portofolio kerjanya juga bertambah banyak. Hal ini penting bila situasi kerja bertambah genting maka karyawan bisa langsung keluar dari organisasinya.

Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan tentang bagaimana strategi karyawan untuk mempertahankan status kesehatan mentalnya agar tetap sehat, ketika ia berada dalam organisasi dengan atasan yang cara berkomunikasinya sangat buruk. Pilihan yang paling mudah dan kategorinya impulsif adalah keluar dari organisasi. Hal ini karena jarang ada karyawan apalagi yang masih muda usianya, belum berkeluarga, dan berkemampuan tinggi, mempunyai kesabaran yang tinggi berhadapan dengan manajer yang pola komunikasinya buruk. Bila karyawan memutuskan untuk tetap setia pada organisasi buruk terebut, maka mereka harus mempunyai strategi jitu untuk memelihara kesehatan mentalnya. Strategi tersebut adalah memperkuat kemampuan dan ketrampilannya.

Referensi:

Abbajay, M. (2018). What to do when you have a bad boss. Harvard Business Review. September07. Retrieved  from  https://hbr.org/2018/09/what-to-do-when-you-have-a-bad-boss

Coates, G.T. (2009). Notes on communication: A few thoughts about the way we interactwith the people we meet. Free e-book from www.wanterfall.com

Khurgin, A. (2016). Good manager, bad manager: New research on the modern management deficit and how to train you way out of it. Grovo. http://a1.grovo.com/asset/whitepapers/good-managers-bad-managers.pdf

Mesko, N. & Bereczkei, T. (2004). Hairstsyle as an adaptive means of displaying phenotypicquality. Human Nature. 15(3), 251-270.

Riggio, R. E. (2003). Introduction to industrial / organizational psychology. New Jersey: Upper Saddle River.

Shinta, A., Widiantoro, W. & Yosef, L.G. (2015). Belajar menjadi pemimpin baik dalam organisasi dengan kepemimpinan buruk. Prosiding Seminar Nasional Psikologi dan Kemanusiaan: Perkembangan Manusia dan Kesejahteraan Psikologi. Program Studi Magister Psikologi DPPS Universitas Muhammidayah Malang. 13-14 Januari 2015. http://mpsi.umm.ac.id/files/file/37-45%20Arundati.pdf

Todorović, T.; Čuden, A.P.; Košak, K. & Toporišič, T. (2017). Language of dressing as acommunication system and its functions–Roman Jakobson’s Linguistic Method. Fibres & Textiles in Eastern Europe. 25, 5(125): 125-33. DOI:10.5604/01.3001.0010.4620.

Ugwuzor, M. (2017). Survivor behavior management and organizational survival. IRACST-International Journal of Commerce, Business and Management (IJCBM). 6(6), 22-30.

Rabu, 27 Oktober 2021

PRANATA SOSIAL PADA MANUSIA MODERN DAN HAKIKAT ORIENTASI NILAI BUDAYA

 

Oleh: Andi Purnawan

Perkembangan teknologi dan informasi merupakan salah satu dampak dari zaman yang semakin berkembang serta kebutuhan-kebutuhan yang semakin meningkat. Teknologi mengalami kemajuan yang pesat di setiap harinya. Latar belakang perkembangan teknologi dan informasi salah satunya adalah teknologi merupakan sistem yang praktis dan sifatnya mempermudah segala urusan. Teknologi dan informasi saat ini tentu sudah menjadi bagian dari atribut sosial. Pesatnya perkembangan teknologi informasi tersebut tentu mempengaruhi perubahan pranata sosial di masyarakat. Pranata sosial sendiri menurut Sallatang dan Walinono (2018) merupakan sistem hubungan sosial yang terorganisir yang yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat.

Pranata sosial di masyarakat terbagi dalam beberapa jenis. Salah satu pranata sosial yang memperoleh pengaruh besar dari berkembangnya teknologi dan informasi adalah Educational Institutions. Educational institutions adalah pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan penerangan dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna. Hal tersebut didasari bahwa saat ini kebutuhan akan pengetahuan baik di lembaga formal maupun non formal bisa dengan mudah diperoleh kapanpun dan dimanapun, tidak terikat ruang dan waktu. Jejaring belajar online yang saat ini lebih dikenal dengan istilah e-learning, menjadikan transfer pengetahuan mudah diterima masyarakat apalagi melalui beragam media sosial yang bisa diakses oleh siapapun. Pada akhirnya, pesatnya perkembangan teknologi informasi memberikan dampak dalam tatanan pranata sosial khususnya bidang pendidikan. Kemudahan belajar merupakan dampak positif yang diterima masyarakat. Namun, tidak luput pula dampak negatif dari mudahnya akses informasi adalah minimya filterisasi berita pada masyarakat.

Pandangan mengenai Orientasi Nilai Budaya menurut Individu Modern dalam Kehidupan saat ini

Kluckhohn dalam Koentjaraningrat (2009) mengembangkan nilai budaya kedalam lima masalah yang paling mendasar dalam kehidupan manusia, diantaranya:a) masalah hakikat hidup, b) masalah hakikat dari karya manusia, c) masalah hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu, d) masalah hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya dan e) masalah hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya.

Menyangkut Hakikat Hidup

Di suatu daerah terdapat remaja dengan kasus bunuh diri dikarenakan ia merasa frustrasi. Menganggap kehidupannya penuh penderitaan dan hanya menyusahkan orang disekitarnya. Namun di sisi lain terdapat seorang pedagang keliling yang merasa beryukur akan kehidupannya walaupun hanya berjualan keliling yang pendapatannya tidak seberapa. Di sisi yang lain pula ada keluarga yang hidupnya begitu serba kekurangan namun mereka tetap optimis untuk menjalankan hidupnya.

Menyangkut Hakikat Karya

Ada kebudayaan yang memandang bahwa karya itu sebagai usaha untuk kelangsungan hidup semata. Sebagai contoh tukang kuli bangunan yang bekerja membangun rumah untuk menafkahi anak istrinya. Kemudian ada yang menganggap karya untuk mendapatkan status, jabatan dan kehormatan. Seperti pada kondisi saat ini sedang ramai-ramainya pemilihan kepala desa dimana setiap calon bekerja keras agar bisa dipilih oleh masyarakat. Lalu ada juga yang berpendapat bahwa karya untuk mempertinggi prestasi. Mereka ini berorientasi kepada prestasi bukan kepada status.

Hakikat Persepsi Manusia dengan Waktu

Terdapat tiga contoh orientasi persepsi manusia dengan waktu. Orientasi ke masa lalu contohnya orang tua biasanya menggunakan masa lalunya sebagai standar kepada fasiltas yang diberikan kepada anaknya. Orientasi di masa kini contohnya boros dan tidak melakukan manajemen keuangan. Terakhir, orientasi ke masa depan contohnya menabung untuk masa depan.

Hakikat Hubungan Manusia dengan Alam

Ada yang percaya bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kehidupan manusia. Sebaliknya ada yang menganggap alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia. Akan tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam. Cara pandang ini juga berpengaruh terhadap pola aktivitas masyarakat. Masyarakat pribumi pada umumnya menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga dan memanfaatkan alam sebaik mungkin, namun keadaan itu berbanding terbalik ketika banyak pendatang dari luar desa yang mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di desa seperti membuang limbah pabrik ke sungai, membabat hutan, mengeruk tanah dan lain sebagainya untuk kepentingan mereka sendiri.

Hakikat Hubungan Manusia dengan Sesamanya

Hakikat hubungan ini tampak dalam bentuk orientasi berfikir, cara bermusyawarah, mengambil keputusan dan bertindak. Kebudayaan yang menekankan hubungan horizontal (kolateral) antar individu, cenderung untuk mementingkan hak azasi, kemerdekaan dan kemandirian. Misalnya seperti terlihat dalam masyarakat di desa yang mengedepankan musyawarah dalam mencari solusi atas permasalahan yang ada di lingkungan. Sebaliknya kebudayaan yang menekankan hubungan vertikal cenderung untuk mengembangkan orientasi ke atas (kepada senior, penguasa atau pemimpin). Tentu saja pandangan ini sangat mempengaruhi proses dinamika dan mobilitas sosial masyarakatnya. Sebagai contoh ketika ada permasalahan antara warga di desa dengan pengembang kawasan pabrik, pada saat itu kepala desa dibutuhkan kehadirannya untuk memutuskan langkah yang akan diambil dalam penyelesaian masalah tersebut. Inti permasalahan disini siapa yang harus mengambil keputusan. Sistem hubungan vertikal keputusan dibuat oleh atasan (senior) untuk semua orang. Tetapi dalam  masyarakat  yang  mementingkan  kemandirian  individual,  maka  keputusan dibuat dan diarahkan kepada masing–masing individu.

 

Referensi:

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu anthropologi. Jakarta: Renika Cipta.

Sallatang, M.A. & Walinono, H. (2018). Pranata-pranata sosial dalam masyarakat pantai di Sulawesi Selatan. Jurnal Al-Qalam, 3(2), 45-48.

Senin, 26 Oktober 2020

REMAJA DENGAN INSECURITY-NYA

Oleh: Andi Purnawan

(Sumber Gambar: Elegant Themes)

Setiap orang memiliki naluri sebagai individu yang perasa. Berbagai aktivitas, keadaan, maupun fenomena sosial memengaruhi kondisi mental seseorang. Aktivitas yang mendukung dan sesuai dengan harapan tentu menimbulkan perasaan lega yang menyenangkan. Namun, hal tersebut tentu tidak akan berlangsung terus menerus. Kondisi sosial yang bertolak belakang dengan harapan kita tentu tidak bisa ditolak. Kondisi semacam itu terkadang membuat seseorang memiliki rasa insecurity. Insecurity atau istilah lainnya ketidakamanan terjadi di saat seseorang merasa khawatir, malu, dan tidak percaya diri yang berlebihan. Ketidakamanan tersebut tentu muncul di berbagai tahap golongan usia. Namun, rentang perkembangan yang mudah mengalami insecurity secara berlebihan adalah dari kalangan usia remaja.

Remaja merupakan masa dimana seseorang mencari jati diri dan ingin selalu memperoleh penerimaan di lingkungannya. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri yang burupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat (Hurlock, 2006). Hal tersebut dapat menimbulkan rasa insecurity jika lingkungan belum bisa menerima dirinya. Pada umumnya, kondisi remaja seperti ini sering dicap masyarakat sebagai orang yang mudah baperan. Saat seseorang mendengar ucapan tersebut, insecurity pada dirinya semakin bertambah, hal ini jika dibiarkan saja tentu sangat tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Bahkan terdapat pula kondisi dimana seseorang tidak bisa mengenali bahwa dirinya sedang merasakan ketidakamanan.

Penyebab insecurity pada seseorang khususnya remaja sangatlah beragam. Pertama, adanya trauma di masa lalu. Remaja yang pernah mengalami trauma di di masa lampaunya sering kali memiliki reaksi yang lebih intens ketika mereka merasa ada hal yang meningkatkan mereka atas masa lampaunya. Kedua, pergaulan yang buruk. Remaja yang baikyang baik bisa terbawa arus dan memaksakan diri mereka untuk bergaul yang didasari oleh gengsi, sehingga mereka tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Ketiga, ekspektasi yang tinggi. Terlalu overthinking dan menyalahkan dirinya sendiri jika harapan-harapan mereka tidak sesuai menyebabkan insecure. Keempat, komentar negatif. Banyak remaja yang menyakiti dirinya sendiri karena mendapat komentar dan kritikan negatif terhadap dirinya.

Insecurity yang mengendap lama dan malah dibiarkan hingga seseorang tidak mau keluar dari zona tersebut tentu berdampak serius terhadap kesehatan mentalnya. Seseorang yang merasa insecure berlebihan akan merasa rendah diri. Seseorang mejadi kurang percaya diri akan segala citra yang dimilikinya. Mengalami takut yang berlebihan sehingga seorang remaja akan membatasi diri dan menjadi pribadi yang anti sosial. Akibat lain yang dirasa seseorang yaitu sikap yang sering membandingkan diri dengan orang lain. Citra diri yang rendah menjadikan orang lain sebagai standar kesempurnaan. Saat seseorang merasa lebih buruk dengan orang lain maka tingkat insecure pada dirinya semakin meningkat. Dampak yang lebih serius akibat dari insecurity adalah memicu seseorang untuk bunuh diri. Hal tersebut didasari karena seseorang sudah tidak memiliki harapan kebahagiaan.

Mengatasi Insecurity

            Insecurity yang berlebihan yang tidak segera diatasi akan membentuk suatu mental illness. Mental illness tersebut merupakan penyakit mental yang serius dan dapat merenggut nyawa remaja. Sebelum mengatasi insecurity tentu kita harus mengerti dan benar-benar menyadari bahwa diri kita mengalami ketidakamanan. Kita sendiri yang harus mengenali semuanya. Sebab, status kesehatan mentalkita adalah tanggug jawab kita sendiri bukan bukan orang lain (Shinta, Widiantoro & Yosef, 2015). Lalu, bagaimana cara kita untuk mengatasi diri saat merasa insecurity?

            Saat seseorang mengalami insecure, hal utama yang perlu diingat adalah selalu bepikir positif. Berpikir positif membantu seseorang dalam memberikan sugesti positif pada diri saat menghadapi kegagalan, saat berperilaku tertentu, dan membangkitkan motivasi (Hill & Ritt, 2004). Berpikir positif juga dapat menjadi refleksi terhadap segala kondisi dan keadaan yang merupakan suatu proses pendewasaan bagi seorang remaja. Agaknya dengan begitu seseorang juga dapat berhenti menyalahkan keadaan bahkan dirinya sendiri serta tidak membandingkan diri dengan orang lain.

            Hindari orang-orang yang membuat insecure. Sosialisai memanglah penting, tapi menjaga diri dari orang-orang yang memicu ketidakamanan jiwa merupakan langkah yang perlu dilakukan. Tidak hanya di dunia nyata, namun mengurangi aktivitas di dunia maya serta menyaring hal-hal yang positif serta tidak perlu terlalu memikirkan komentar-komentar negatif dari orang lain adalah cara seseorang agar pikirannya tidak tertumpuk dengan pendapat-pendapat buruk dari orang lain. Selain itu, seorang remaja tidak bisa terus-terusan terkurung. Sebab itu, selalu lakukan hal yang membuat bahagia. Temukan kebahagiaan diri, karena dengan itu kondisi insecurity yang ada pada diri, perlahan akan meghilang tergantung motivasi yang ada dalam diri seseorang.

            Remaja merupakan fase antara anak-anak dan dewasa. Pencarian jati diri dan pengakuan orang lain merupakan salah satu tugas perkembangannya. Jangan sampai hanya karena faktor tertentu membuat seseorang menjadi insecure. Jika semasa remaja tidak mau keluar dari zona tersebut, tentu akan memengaruhi proses penghargaan dirinya kelak. Meningkatkan rasa percaya diri, mencari lingkungan yang mendukung, serta sering meminta pendapat dari orang-orang terdekat, akan menjadikan diri lebih kuat mental. Akhirnya, self love sangatlah penting sebagai benteng diri seseorang dalam menghalau segala pemicu hadirnya insecurity.

-----

Referensi:

Hill, N. & Ritt, M. J. (2004). Keys to Positive Thinking. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Hurlock, E. (2006). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Shinta, A., Widiantoro, W. & Yosef, L.G. (2015). Belajar menjadi pemimpin baik dalam organisasi dengan kepemimpinan buruk. Prosiding. Seminar Nasional Psikologi dan Kemanusiaan: Perkembangan Manusia dan Kesejahteraan Psikologi. Program Studi Magister Psikologi DPPS Universitas Muhammidayah Malang. 13-14 Januari 2015.

Sabtu, 11 Juli 2020

FENOMENA TOXIC LOVE RELATIONSHIP


Ketika Hubungan Sudah Tidak Lagi Menghubungkan

Oleh : Andi Purnawan


Usia dewasa adalah usia yang ditandai dengan matangnya organ tubuh serta fisik dan juga psikis yang semakin berkembang dalam pola berpikir. Matangnya psikis seseorang dapat dirasakan pada usia 20-an tahun. Usia tersebut memiliki tugas perkembangan salah satunya kebutuhan dalam membangun intimasi atau kedekatan. Kedekatan tersebut bisa berupa teman, sahabat, partner kerja, pasangan kekasih, dan juga suami-istri. Mengingat manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, dalam hal ini tidak terkecuali kebutuhan akan kasih sayang. Maka dari itu membangun suatu hubungan adalah salah satu cara agar tercapainya kedekatan yang nantinya menjadikan pasangan saling keterkaitan yang hangat dan tercapai kebutuhan-kebutuhannya. Saling mengenal dan mengerti pasangan merupakan langkah yang harus ada dalam membangun suatu hubungan. Hal tersebut guna menciptakan hubungan yang sehat. Jangan sampai dalam hubungan terdapat racun-racun yang cenderung membuat hubungan tidak sehat atau yang trend sekarang disebut dengan toxic love relationship.
Toxic love relationship atau singkat dikenal dengan toxic relationship adalah sebuah kondisi yang mana hubungan percintaan bisa merugikan salah satu pihak (Taufik, 2019). Entah yang masih pacaran atau yang sudah menikah. Hubungan beracun membuat satu pihak dari pasangan merasa sangat terganggu dan tidak nyaman. “Itu sangat mengganggu sekali, tidak harus sudah dalam komitmen, tapi masih belum ada komitmen buat pacaran pun sudah bisa terjadi…”, opini dari Retno Pertiwi salah satu mahasiswi Kehutanan UGM. Perempuan yang berusia 21 tahun tersebut juga menyebutkan contoh kondisi atau perlakuan dalam hubungan beracun yang dialami seseorang dari pasangannnya. “… Kaya misal terlalu banyak mengatur, overprotective, tarik ulur sembarangan, dan masih banyak lagi” ungkapnya. Namun, pada sejumlah orang tidak menyadari bahwa hubungannya terdapat toxic. Dampak yang ditimbulkan jika seseorang tidak mengenali tanda-tanda toxic relationship yaitu seseorang cenderung terkurung dan melanjutkan hubungannya yang tidak sehat itu. Tentu hal semacam itu harus dihindari agar kesehatan mental kita juga tetap terjaga. Kita sendiri yang harus mengenali semuanya. Sebab, status kesehatan mental kita adalah tanggung jawab kita sendiri bukan orang lain (Shinta, Widiantoro & Yosef, 2015).
Tanda-tanda toxic relationship sangatlah kompleks, mengingat situasi dan kondisi yang tiap hari berubah. Lalu apa tanda-tandanya? Pada tulisan ini terdapat enam tanda-tanda toxic relationship yang dapat kita pakai untuk mengantisipasinya.
(1). Menyalahkan emosi negatif diri kita atas pasangan kita. Pasangan cenderung menghakimi sikapnya yang seolah-olah disebabkan oleh kita sebagai pasangannya. Kalimat yang biasa ia lontarkan adalah “aku itu seperti ini gara-gara perilaku mu yang begitu.”
(2). Menunjukkan kecemburuan secara berlebihan. Cemburu merupakan ekspresi sayang dan takut kehilangan seseorang terhadap pasangannya, akan tetapi hal tersebut tentu membuat ketidaknyamanan.
(3). Pasangan membatasi ruang gerak kita. Sikap tersebut membuat kita seperti terkurung. Fenomena berhubungan seperti itu cenderung pasangan mengikat apa-apa, dimana dan kemana harus dengan pasangan. Pada kenyataannya dalam beraktivitas tentu kita bersosialisasi dan membutuhkan lebih dari satu orang.
(4). Tidak ingin pasangan lebih hebat darinya. Mulai tumbuh sikap kompetitif yang tidak sehat. Misalnya, si cowok tidak mau ceweknya lebih sukses darinya atau sebaliknya si cewek tidak mau cowoknya lebih pintar darinya.
(5). Terdapat kode-kode. Dalam hal ini hubungan terkesan buruk dalam komunikasi dan menuntut pasangan selalu bisa peka.
(6). Terdapat password di antara pasangan. Sama halnya nomor 5, keterbukaan dan komunikasi pasangan mulai pudar. Semua media sosial dijaga ketat dan tidak boleh pasangan mengetahui isinya.
     Tanda-tanda toxic love relationship perlu dimengerti agar jika dalam hubungan kita terdapat racun, kita dapat segera mengatasinya. Bagaimana cara mengatasi toxic relationship? Tidak ada buku atau referensi khusus yang mengulas cara menjadi istri yang sempurna, cara menjadi suami yang baiik, cara membuat hubungan selalu harmonis. Tidak ada manusia yang diciptakan dengan satu kepribadian yang sama. Empati dan kecerdasan emosi sangatlah penting. Saling memahami dan mengerti kondisi pasangan adalah sikap yang dewasa. Kunci dari semuanya adalah komunikasi. Komunikasi yang buruk akan membuat suatu hubungan yang tidak menentu. Mulailah dari diri kita untuk berbicara pelan dengan pasangan. Jika dirasa memiliki keinginan dari pasangan, bicarakan dengan empati dan tahu kondisi. Jika pasangan atau bahkan dalam hubungan terdapat kekurangan maka bagaimana kita bisa bicara baik-baik agar nantinya tidak saling menyakiti.
Suatu hubungan hendaklah berusaha dalam menuju ke arah yang lebih dewasa. Kita butuh memahami bagaimana memberikan versi terbaik kita terhadap pasangan. Kenapa kita harus cemburu kalau kita dalam kondisi aman? Ekspektasi dengan persepsi akan selalu jadi mis-komunikasi. Dalam hubungan yang mengandung racun atau toxic relationship sebenarya adalah ujian pendewasaan kita bersama. Jika bisa kita perbaiki, apa salahnya kita pertahankan. Jika berakhir adalah jalan terbaik, semoga setelah ini kita dapat intropeksi dan menjadikan sesuatu yang merefleksikan kita ke arah yang lebih baik ke depannya.

Referensi:
Shinta, A., Widiantoro, W. & Yosef, L.G. (2015). Belajar menjadi pemimpin baik dalam organisasi dengan kepemimpinan buruk. Prosiding. Seminar Nasional Psikologi dan Kemanusiaan: Perkembangan Manusia dan Kesejahteraan Psikologi. Program Studi Magister Psikologi DPPS Universitas Muhammidayah Malang. 13-14 Januari 2015.
Taufik. (2019). Tiga Setia Gara: Bucin dan Toxic Love Relationship. Mojok.Co. Retrivied on July 11, 2020 from:
https://mojok.co/terminal/tiga-setia-gara-bucin-dan-toxic-love-relationship/


Sabtu, 02 Mei 2020

IMPLEMENTASI HARI PENDIDIKAN NASIONAL


PERMASALAHAN PENDIDIKAN BANGSA SEBAGAI REFLEKSI DI HARDIKNAS
Oleh: Andi Purnawan

(Sumber Gambar: IDN Times)

Telah diketahui bersama bahwa cita-cita semua bangsa di dunia ini yaitu menjadi negara yang maju. Salah satu yang memengaruhi maju tidaknya suatu negara adalah faktor pendidikan. Pendidikan adalah tonggak kemajuan suatu bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tujuan dari sebuah pendidikan.  Proses mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas menjadi poin penting dalam keberadaan suatu pendidikan. Mengingat akan sumber daya manusia dalam memajukan bangsa terus tergantikan. Akan tetapi, Indonesia merupakan negara dengan tingkat pendidikan yang masih tergolong belum maju jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Banyak faktor yang mendasari tertinggalnya pendidikan di Indonesia ini. Maka dari itu, pemerintah terus mengevaluasi sistem pendidikan Indonesia di setiap tahunnya, terutama saat memasuki tahun ajaran baru.
Mahalnya biaya pendidikan merupakan penyebab yang dirasa dari dulu menjadi alasan akan tertinggalnya pendidikan di negeri ini. Sering kali anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan sekolahnya akan terbengkalaikan. Hal tersebut dikarenakan dari pihak orang tua sudah tidak bisa menyanggupi biaya sekolah dan lebih mementingkan kebutuhan ekonomi sehari-harinya. Untuk itu pemerintah saat ini terus berupaya agar faktor kemiskinan tidak menjadi alasan seseorang untuk tidak sekolah atau melanjutkan studinya. Salah satunya dengan cara memberikan fasilitas beasiswa kurang mampu untuk menunjang pendidikan. Akan tetapi, terkadang beasiswa tersebut saat ini dirasa belum bisa dikatakan merata melihat masih ada anak-anak yang mengalami putus sekolah. Untuk itu, adanya evaluasi dan pemantauan beasiswa dirasa sangat penting agar tidak ada lagi kasus berhenti sekolah karena tekanan biaya dan juga penerimaan biaya yang tidak tepat sasaran.
Faktor berikutnya yaitu anggapan kurang pentingnya suatu pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengatakan, salah satu penyebab tingginya kemiskinan ialah faktor struktural atau masyarakat yang tidak ingin berkembang mengubah nasib melalui pendidikan. Sebagian masyarakat masih menilai bahwa pendidikan itu bukan bagian terpenting untuk mengurangi kemiskinan (Ningrum, 2018).  Sekolah maupun universitas adalah tempat bagi seseorang untuk belajar sebelum terjun ke dunia kerja maupun  usaha . Apabila proses pembelajaran dilaksanakan dengan benar tanpa adanya kecurangan agar hanya dapat lulus, maka seseorang akan merasakan manfaat dari sekolah tersebut. Seorang teknisi mesin lulusan sekolah teknik mesin (STM) ataupun sarjana teknik tidak akan merusak mesin yang harganya puluhan milyar karena mengetahui prosedur penanganannya atau perbaikannya. Bandingkan apabila seorang teknisi mesin yang berasal dari pengalaman saja tanpa sekolah, maka teknisi tersebut mungkin saja dapat merusak mesin karena belum tahu prosedurnya serta sistem coba – coba. Itulah pentingnya suatu pendidikan.
Faktor selanjutnya, beban administrasi dan minimnya pendidik yang berkualitas di negeri ini. Guru merupakan salah satu faktor utama yang bisa membuat seorang anak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik. Hal tersebut dikarenakan guru fokus dengan beban administrasi. Melansir dari CCN Indonesia, Presiden RI Joko Widodo menilai kebanyakan guru saat ini tidak fokus kegiatan mengajar karena terlalu sibuk mengurus persoalan administrasi di sekolah. Alhasil beban administrasi para guru itu pun menjadi persoalan dalam pendidikan di Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan kualitas pendidikan profesi guru juga akan ditingkatkan. Kemendikbud bakal mendorong program pendidikan profesi guru di berbagai institusi lokal dan internasional. Untuk menciptakan pendidikan yang unggul di Indonesia, perlu adanya para cerdik cendikiawan. Hal tersebut tentu dibutuhkan pengajar yang profesional dan bukan yang hanya asal bisa mentransfer materi  ke anak didiknya.
Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari Sabtu, 02 Mei 2020 ini merupakan refleksi bagi bangsa untuk kemajuan pendidikan di masa mendatang. Semangat juang Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara harus selalu digaungkan. Persoalan pendidikan di negeri ini menjadi PR penting bagaimana bangsa memajukan pendidikan agar tidak ketinggalan dengan negara-negara lain ke depannya. Kesadaran akan pentingnya suatu pendidikan harus diedukasikan bersama. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang kritis pikirnya. Untuk itu perlunya perubahan sistem pendidikan ke arah yang lebih baik harus segera terealisasi. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Referensi:
Ningrum, Desi Aditia. (2018). Anggapan Pendidikan Tidak Penting Penyebab Kemiskinan Masih Tinggi di Indonesia. Merdeka.Com.
https://www.merdeka.com/uang/anggapan-pendidikan-tidak-penting-penyebab-kemiskinan-masih-tinggi-di-indonesia.html (diakses pada 02 Mei 2020).
Redaktur. (2020). Jokowi Nilai Beban Administrasi Guru Jadi Masalah Pendidikan. CNN Indonesia.
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200403130737-20-490007/jokowi-nilai-beban-administrasi-guru-jadi-masalah-pendidikan (diakses pada 02 Mei 2020).

Sumber Gambar:
Putera, Dewa. P.A.D. (2019). Fakta Potret Pendidikan Indonesia, Akses Internet hingga Kurikulumnya. IDN Times.
https://www.idntimes.com/life/education/dewa-putu-ardita/fakta-potret-pendidikan-indonesia (diakses pada 02 Mei 2020).


Senin, 27 April 2020


AKSI DI KALA PANDEMI
Oleh: Andi Purnawan



Covid-19 adalah pandemi global yang berdampak besar di semua kalangan dan lapisan masyarakat. Bukan hanya di bidang kesehatan saja yang menjadi polemik saat ini. Namun di bidang pendidikan, ekonomi, dan keberlangsungan hidup masyarakat menjadi masalah yang serius yang disebabkan adanya bencana non-alam tersebut. Dampak tersebut tentu tidak hanya dirasakan oleh lapisan masyarakat yang tinggal di lingkup perkotaan. Masyarakat yang aktivitas kesehariannya di desa, bekerja di kompleks perkampungan turut merasakan dampak yang ditimbulkan dari munculnya Covid-19 ini. Mengingat aktivitas sosial di wilayah desa kecamatan yang tinggi, adanya edukasi dan gotong royong yang bersifat sosial pula dirasa sangat penting dalam situasi seperti ini. Tempat yang merupakan aktivitas sosialnya masih tinggi di pandemi ini salah satunya adalah aktivitas jual beli di pasar.
Dalam pasar masih dijumpai beberapa orang terutama pedagang yang tidak mengindahkan imbauan pemerintah mengenai pencegahan penyebaran virus corona yaitu memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah berinteraksi. Mengingat minimnya edukasi tentang pentingnya pemakaian masker dan mencuci tangan, hal tersebut menggerakkan para pemuda dari berbagai komunitas di Gunungkidul yang bergabung dalam gerakan Gunungkidul Lawan Corona. Gerakan tersebut dirasa sangat penting meninjau program-program tepat dalam situasi saat ini seperti penggalangan dana untuk pembelian masker, handsanitizer, dan sabun cuci tangan yang kemudian akan dibagikan ke masyarakat terutama di pasar.
Pasar Gedangsari yang terletak di Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul adalah salah satu pasar yang masih beroperasi hingga saat ini. Hari Senin, 27 April 2020 tepatnya pukul 05.00 WIB merupakan waktu dimana gerakan Gunungkidul Lawan Corona terjun di Pasar Gedangsari. Komunitas yang bergabung dalam gerakan ini diantaranya, Forum Mahasiswa Gedangsari atau lebih dikenal dengan Formasi, Bebakaran Gunungkidul, Gunungkidul Menginspirasi, dan juga Saka Wira Kartika. Titik kumpul kami berada di Pendopo Kecamatan Gedangsari. Sebelum menyebar ke pasar, terlebih dahulu kami menyiapkan segala sesuatunya. Diantaranya masker yang nanti akan dibagikan, sabun cuci tangan, dan juga poster yang akan ditempelkan di pasar. Tidak lupa kami yang berjumlah sekitar 12 orang ini membagi tim yang setiap timnya berjumlah 3 orang. Hal tersebut dilakukan agar pembagaian masker bisa merata dan tetap bisa menjaga jarak sosial.
Mulailah kami memasuki pasar. Demi menjaga etika dan keamanan, tidak lupa kami meminta izin terlebih dahulu kepada petugas pasar. Tiga orang anggota tim tidak semata-mata hanya membagi masker dengan asal-asalan. Kami mengutamakan pedagang yang tidak memakai masker agar dapat memperoleh masker yang kami bawa. Alasan dan cara pemakaian masker tidak lupa turut kami edukasikan kepada mereka. Keluhan dan harapan pun mereka sampaikan kepada kami. “Di saat seperti ini, kami masih kekurangan masker. Adanya uluran bantuan seperti masker dan sembako tentu sangat kami nantikan”, ujar Ratinah salah satu pedagang tetap di Pasar Gedangsari. Keluhan mereka terbukti dengan permintaan masker pada beberapa pedagang yang mereka belum mempunyai masker sama sekali sedangkan persediaan masker yang kami bawa tergolong sedikit. Selain pembagian masker, kami juga menempatkan sabun cuci tangan di dua titik strategis pasar. Dua titik strategis tersebut yaitu di tangga masuk kios pasar dan depan mushola pasar. Tidak lupa kami juga menempelkan poster di dinding kios pasar, yang di mana tempat tersebut merupakan tempat lalu lalang aktivitas pasar.
Kegiatan pembagian masker, penempatan sabun cuci tangan, dan penempelan poster diharapkan dapat menjadi cara yang edukatif dan turut andil dalam pemutusan rantai penyebaran Covid-19. Kegiatan ini juga merupakan bentuk gotong royong dan kepedulian kami sebagai pemuda Gunungkidul kepada warga masyarakat di Gunungkidul termasuk di Kecamatan Gedangsari atas pandemi global ini. Kami sadar betul bahwa masyarakat di sini mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Tindakan nyata yang tidak hanya bersifat teoritis sangat mereka butuhkan. Mereka tidak bisa menghindari aktivitas di luar. Akan tetapi penerapan social distancing dan physical distancing, rajin mencuci tangan dengan sabun, serta tidak lupa memakai masker harus terus kita contohkan bersama. Semoga dengan gotong royong dan kepedulian bersama, kita dapat terhindar dan menghentikan penyebaran Covid-19.
Tidak lupa kami berterima kasih kepada perwakilan dari komunitas Gunungkidul Kece yang sudah ikut serta membagikan masker serta mendokumentasikan kegiatan saat itu dengan keren. Berikut foto-foto kegiatan kemanusiaan kami di Pasar Gedangsari.







Kamis, 23 April 2020

WELCOME TO MY BLOGSPOT CHANNEL


CERITA PENA

Oleh: Andi Purnawan


Menulis adalah sesuatu yang membosankan bagi sebagian orang. Proses panjang menulis kadang kala membuat kegiatan menulis menjadi kegiatan yang sekedar dibaca dan tidak menyenangkan. Pengumpulan ide atau gagasan yang teratur menjadi alasan seseorang malas untuk menulis. Tulisan yang bagus bukan hanya sekedar tulisan yang berisi curhatan-curhatan pasaran yang sebagian orang menganggapnya sesuatu yang terkesan hiperbola. Namun, curhatan seseorang yang ditulis dapat menarik dan dapat mengundang para pembaca bila tulisan tersebut dirangkai dengan kaidah-kaidah yang baku dan bernilai sastra. Tidak beda dengan tulisan ilmiah, artikel, opini atau sejenisnya. Artikel yang dapat membuka mata para pembaca adalah artikel yang tidak hanya memuat omong kosong belaka.  Adanya teori, aplikasi, dan korelasi dengan persoalan yang ditulis merupakan artikel yang dinomor satukan untuk dibaca.
Saya bukan orang yang sudah lama berkecipung di dunia kertas dan pena. Menulis bukanlah keahlian dan hobi saya. Namun, sejak SMP saya tertarik dengan sastra dan tulisan-tulisan ilmiah. Hingga saat ini, keadaan menuntut saya agar tidak lepas dari yang namanya menulis. Merangkai kata bukanlah jiwa saya. Kritis dan teoritis mungkin bukan kepandaian saya. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang ingin saya sampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti namun dengan media tulisan. Blog ini merupakan media terdekat saya untuk menulis. Para pembaca yang budiman, jangan menganggap saya sebagai blogger yang penuh inspratif dan intuisi. Sama halnya dengan kebanyakan orang yang menulis dengan mempertimbangkan keadaan dan suasana hati. Mempertimbangkan keadaan hati?  Ya, menulis dengan hati merupakan energi yang akan membuat sebuah tulisan berkarakter dan natural karena energi yang diperlukan dan digunakan bersumber dari hati penulisnya, sehingga tulisan pun memberikan energi berupa kepuasan dan semangat untuk berkarya bagi penulisnya.
Teringat akan peribahasa latin yang mengatakan “Verba Volant Scripta Manent”, yang maknanya “Kata-kata Lisan Terbang, sementara Tulisan Menetap”. Ucapan seseorang dapat dengan mudah untuk dilupakan, namun beda dengan tulisan. Tulisan akan selalu tersimpan dan senantiasa berkesan untuk diingat. Menulis merupakan ajang untuk menuangkan gagasan dan kosep pikiran yang tidak bisa tersampaikan secara lisan. Dengan belajar menulis, sama halnya seseorang belajar dan berusaha mengerahkan segenap pikiran-pikiran cemerlangnya. Blog ini ditujukan untuk saya pribadi yang baru belajar menulis segala bentuk tulisan dan menggerakan cerita-cerita pena pribadi yang susah tersampaikan. Blog ini juga saya persilakan untuk teman-teman yang hendak menuangkan gagasan-gagasan supernya. Tanpa bantuan kalian terutama bagi pembaca, blog seperti ini mati tak berpenghuni. Tulisan dan gagasan menarik kalian, saya tunggu di blog ini. Salam literasi.