Oleh: Andi Purnawan
Perkembangan teknologi dan
informasi merupakan salah satu dampak dari zaman yang semakin berkembang serta
kebutuhan-kebutuhan yang semakin meningkat. Teknologi mengalami kemajuan yang
pesat di setiap harinya. Latar belakang perkembangan teknologi dan informasi
salah satunya adalah teknologi merupakan sistem yang praktis dan sifatnya
mempermudah segala urusan. Teknologi dan informasi saat ini tentu sudah menjadi
bagian dari atribut sosial. Pesatnya perkembangan teknologi informasi tersebut
tentu mempengaruhi perubahan pranata sosial di masyarakat. Pranata sosial
sendiri menurut Sallatang dan Walinono (2018) merupakan sistem hubungan sosial
yang terorganisir yang yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum
yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat.
Pranata sosial di masyarakat
terbagi dalam beberapa jenis. Salah satu pranata sosial yang memperoleh
pengaruh besar dari berkembangnya teknologi dan informasi adalah Educational Institutions. Educational
institutions adalah pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan penerangan
dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna. Hal
tersebut didasari bahwa saat ini kebutuhan akan pengetahuan baik di lembaga
formal maupun non formal bisa dengan mudah diperoleh kapanpun dan dimanapun,
tidak terikat ruang dan waktu. Jejaring belajar online yang saat ini lebih dikenal dengan istilah e-learning, menjadikan transfer
pengetahuan mudah diterima masyarakat apalagi melalui beragam media sosial yang
bisa diakses oleh siapapun. Pada akhirnya, pesatnya perkembangan teknologi
informasi memberikan dampak dalam tatanan pranata sosial khususnya bidang
pendidikan. Kemudahan belajar merupakan dampak positif yang diterima
masyarakat. Namun, tidak luput pula dampak negatif dari mudahnya akses informasi
adalah minimya filterisasi berita pada masyarakat.
Pandangan
mengenai Orientasi Nilai Budaya menurut Individu Modern dalam Kehidupan saat
ini
Kluckhohn dalam Koentjaraningrat
(2009) mengembangkan nilai budaya kedalam lima masalah yang paling mendasar
dalam kehidupan manusia, diantaranya:a) masalah hakikat hidup, b) masalah
hakikat dari karya manusia, c) masalah hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang
waktu, d) masalah hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya dan e)
masalah hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya.
Menyangkut
Hakikat Hidup
Di suatu daerah terdapat
remaja dengan kasus bunuh diri dikarenakan ia merasa frustrasi. Menganggap
kehidupannya penuh penderitaan dan hanya menyusahkan orang disekitarnya. Namun
di sisi lain terdapat seorang pedagang keliling yang merasa beryukur akan
kehidupannya walaupun hanya berjualan keliling yang pendapatannya tidak
seberapa. Di sisi yang lain pula ada keluarga yang hidupnya begitu serba
kekurangan namun mereka tetap optimis untuk menjalankan hidupnya.
Menyangkut
Hakikat Karya
Ada kebudayaan yang
memandang bahwa karya itu sebagai usaha untuk kelangsungan hidup semata.
Sebagai contoh tukang kuli bangunan yang bekerja membangun rumah untuk
menafkahi anak istrinya. Kemudian ada yang menganggap karya untuk mendapatkan
status, jabatan dan kehormatan. Seperti pada kondisi saat ini sedang
ramai-ramainya pemilihan kepala desa dimana setiap calon bekerja keras agar
bisa dipilih oleh masyarakat. Lalu ada juga yang berpendapat bahwa karya untuk
mempertinggi prestasi. Mereka ini berorientasi kepada prestasi bukan kepada
status.
Hakikat
Persepsi Manusia dengan Waktu
Terdapat tiga contoh orientasi
persepsi manusia dengan waktu. Orientasi ke masa lalu contohnya orang tua
biasanya menggunakan masa lalunya sebagai standar kepada fasiltas yang
diberikan kepada anaknya. Orientasi di masa kini contohnya boros dan tidak
melakukan manajemen keuangan. Terakhir, orientasi ke masa depan contohnya menabung
untuk masa depan.
Hakikat
Hubungan Manusia dengan Alam
Ada yang percaya bahwa alam
itu dahsyat dan mengenai kehidupan manusia. Sebaliknya ada yang menganggap alam
sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia. Akan tetapi, ada
juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam. Cara pandang
ini juga berpengaruh terhadap pola aktivitas masyarakat. Masyarakat pribumi
pada umumnya menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga dan memanfaatkan alam
sebaik mungkin, namun keadaan itu berbanding terbalik ketika banyak pendatang
dari luar desa yang mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di desa seperti
membuang limbah pabrik ke sungai, membabat hutan, mengeruk tanah dan lain
sebagainya untuk kepentingan mereka sendiri.
Hakikat
Hubungan Manusia dengan Sesamanya
Hakikat hubungan ini tampak
dalam bentuk orientasi berfikir, cara bermusyawarah, mengambil keputusan dan
bertindak. Kebudayaan yang menekankan hubungan horizontal (kolateral) antar
individu, cenderung untuk mementingkan hak azasi, kemerdekaan dan kemandirian.
Misalnya seperti terlihat dalam masyarakat di desa yang mengedepankan
musyawarah dalam mencari solusi atas permasalahan yang ada di lingkungan.
Sebaliknya kebudayaan yang menekankan hubungan vertikal cenderung untuk mengembangkan
orientasi ke atas (kepada senior, penguasa atau pemimpin). Tentu saja pandangan
ini sangat mempengaruhi proses dinamika dan mobilitas sosial masyarakatnya.
Sebagai contoh ketika ada permasalahan antara warga di desa dengan pengembang
kawasan pabrik, pada saat itu kepala desa dibutuhkan kehadirannya untuk
memutuskan langkah yang akan diambil dalam penyelesaian masalah tersebut. Inti
permasalahan disini siapa yang harus mengambil keputusan. Sistem hubungan
vertikal keputusan dibuat oleh atasan (senior) untuk semua orang. Tetapi
dalam masyarakat yang
mementingkan kemandirian individual,
maka keputusan dibuat dan
diarahkan kepada masing–masing individu.
Referensi:
Koentjaraningrat.
(2009). Pengantar ilmu anthropologi.
Jakarta: Renika Cipta.
Sallatang,
M.A. & Walinono, H. (2018). Pranata-pranata sosial dalam masyarakat pantai
di Sulawesi Selatan. Jurnal Al-Qalam,
3(2), 45-48.