Senin, 27 April 2020


AKSI DI KALA PANDEMI
Oleh: Andi Purnawan



Covid-19 adalah pandemi global yang berdampak besar di semua kalangan dan lapisan masyarakat. Bukan hanya di bidang kesehatan saja yang menjadi polemik saat ini. Namun di bidang pendidikan, ekonomi, dan keberlangsungan hidup masyarakat menjadi masalah yang serius yang disebabkan adanya bencana non-alam tersebut. Dampak tersebut tentu tidak hanya dirasakan oleh lapisan masyarakat yang tinggal di lingkup perkotaan. Masyarakat yang aktivitas kesehariannya di desa, bekerja di kompleks perkampungan turut merasakan dampak yang ditimbulkan dari munculnya Covid-19 ini. Mengingat aktivitas sosial di wilayah desa kecamatan yang tinggi, adanya edukasi dan gotong royong yang bersifat sosial pula dirasa sangat penting dalam situasi seperti ini. Tempat yang merupakan aktivitas sosialnya masih tinggi di pandemi ini salah satunya adalah aktivitas jual beli di pasar.
Dalam pasar masih dijumpai beberapa orang terutama pedagang yang tidak mengindahkan imbauan pemerintah mengenai pencegahan penyebaran virus corona yaitu memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah berinteraksi. Mengingat minimnya edukasi tentang pentingnya pemakaian masker dan mencuci tangan, hal tersebut menggerakkan para pemuda dari berbagai komunitas di Gunungkidul yang bergabung dalam gerakan Gunungkidul Lawan Corona. Gerakan tersebut dirasa sangat penting meninjau program-program tepat dalam situasi saat ini seperti penggalangan dana untuk pembelian masker, handsanitizer, dan sabun cuci tangan yang kemudian akan dibagikan ke masyarakat terutama di pasar.
Pasar Gedangsari yang terletak di Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul adalah salah satu pasar yang masih beroperasi hingga saat ini. Hari Senin, 27 April 2020 tepatnya pukul 05.00 WIB merupakan waktu dimana gerakan Gunungkidul Lawan Corona terjun di Pasar Gedangsari. Komunitas yang bergabung dalam gerakan ini diantaranya, Forum Mahasiswa Gedangsari atau lebih dikenal dengan Formasi, Bebakaran Gunungkidul, Gunungkidul Menginspirasi, dan juga Saka Wira Kartika. Titik kumpul kami berada di Pendopo Kecamatan Gedangsari. Sebelum menyebar ke pasar, terlebih dahulu kami menyiapkan segala sesuatunya. Diantaranya masker yang nanti akan dibagikan, sabun cuci tangan, dan juga poster yang akan ditempelkan di pasar. Tidak lupa kami yang berjumlah sekitar 12 orang ini membagi tim yang setiap timnya berjumlah 3 orang. Hal tersebut dilakukan agar pembagaian masker bisa merata dan tetap bisa menjaga jarak sosial.
Mulailah kami memasuki pasar. Demi menjaga etika dan keamanan, tidak lupa kami meminta izin terlebih dahulu kepada petugas pasar. Tiga orang anggota tim tidak semata-mata hanya membagi masker dengan asal-asalan. Kami mengutamakan pedagang yang tidak memakai masker agar dapat memperoleh masker yang kami bawa. Alasan dan cara pemakaian masker tidak lupa turut kami edukasikan kepada mereka. Keluhan dan harapan pun mereka sampaikan kepada kami. “Di saat seperti ini, kami masih kekurangan masker. Adanya uluran bantuan seperti masker dan sembako tentu sangat kami nantikan”, ujar Ratinah salah satu pedagang tetap di Pasar Gedangsari. Keluhan mereka terbukti dengan permintaan masker pada beberapa pedagang yang mereka belum mempunyai masker sama sekali sedangkan persediaan masker yang kami bawa tergolong sedikit. Selain pembagian masker, kami juga menempatkan sabun cuci tangan di dua titik strategis pasar. Dua titik strategis tersebut yaitu di tangga masuk kios pasar dan depan mushola pasar. Tidak lupa kami juga menempelkan poster di dinding kios pasar, yang di mana tempat tersebut merupakan tempat lalu lalang aktivitas pasar.
Kegiatan pembagian masker, penempatan sabun cuci tangan, dan penempelan poster diharapkan dapat menjadi cara yang edukatif dan turut andil dalam pemutusan rantai penyebaran Covid-19. Kegiatan ini juga merupakan bentuk gotong royong dan kepedulian kami sebagai pemuda Gunungkidul kepada warga masyarakat di Gunungkidul termasuk di Kecamatan Gedangsari atas pandemi global ini. Kami sadar betul bahwa masyarakat di sini mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Tindakan nyata yang tidak hanya bersifat teoritis sangat mereka butuhkan. Mereka tidak bisa menghindari aktivitas di luar. Akan tetapi penerapan social distancing dan physical distancing, rajin mencuci tangan dengan sabun, serta tidak lupa memakai masker harus terus kita contohkan bersama. Semoga dengan gotong royong dan kepedulian bersama, kita dapat terhindar dan menghentikan penyebaran Covid-19.
Tidak lupa kami berterima kasih kepada perwakilan dari komunitas Gunungkidul Kece yang sudah ikut serta membagikan masker serta mendokumentasikan kegiatan saat itu dengan keren. Berikut foto-foto kegiatan kemanusiaan kami di Pasar Gedangsari.







Kamis, 23 April 2020

WELCOME TO MY BLOGSPOT CHANNEL


CERITA PENA

Oleh: Andi Purnawan


Menulis adalah sesuatu yang membosankan bagi sebagian orang. Proses panjang menulis kadang kala membuat kegiatan menulis menjadi kegiatan yang sekedar dibaca dan tidak menyenangkan. Pengumpulan ide atau gagasan yang teratur menjadi alasan seseorang malas untuk menulis. Tulisan yang bagus bukan hanya sekedar tulisan yang berisi curhatan-curhatan pasaran yang sebagian orang menganggapnya sesuatu yang terkesan hiperbola. Namun, curhatan seseorang yang ditulis dapat menarik dan dapat mengundang para pembaca bila tulisan tersebut dirangkai dengan kaidah-kaidah yang baku dan bernilai sastra. Tidak beda dengan tulisan ilmiah, artikel, opini atau sejenisnya. Artikel yang dapat membuka mata para pembaca adalah artikel yang tidak hanya memuat omong kosong belaka.  Adanya teori, aplikasi, dan korelasi dengan persoalan yang ditulis merupakan artikel yang dinomor satukan untuk dibaca.
Saya bukan orang yang sudah lama berkecipung di dunia kertas dan pena. Menulis bukanlah keahlian dan hobi saya. Namun, sejak SMP saya tertarik dengan sastra dan tulisan-tulisan ilmiah. Hingga saat ini, keadaan menuntut saya agar tidak lepas dari yang namanya menulis. Merangkai kata bukanlah jiwa saya. Kritis dan teoritis mungkin bukan kepandaian saya. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang ingin saya sampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti namun dengan media tulisan. Blog ini merupakan media terdekat saya untuk menulis. Para pembaca yang budiman, jangan menganggap saya sebagai blogger yang penuh inspratif dan intuisi. Sama halnya dengan kebanyakan orang yang menulis dengan mempertimbangkan keadaan dan suasana hati. Mempertimbangkan keadaan hati?  Ya, menulis dengan hati merupakan energi yang akan membuat sebuah tulisan berkarakter dan natural karena energi yang diperlukan dan digunakan bersumber dari hati penulisnya, sehingga tulisan pun memberikan energi berupa kepuasan dan semangat untuk berkarya bagi penulisnya.
Teringat akan peribahasa latin yang mengatakan “Verba Volant Scripta Manent”, yang maknanya “Kata-kata Lisan Terbang, sementara Tulisan Menetap”. Ucapan seseorang dapat dengan mudah untuk dilupakan, namun beda dengan tulisan. Tulisan akan selalu tersimpan dan senantiasa berkesan untuk diingat. Menulis merupakan ajang untuk menuangkan gagasan dan kosep pikiran yang tidak bisa tersampaikan secara lisan. Dengan belajar menulis, sama halnya seseorang belajar dan berusaha mengerahkan segenap pikiran-pikiran cemerlangnya. Blog ini ditujukan untuk saya pribadi yang baru belajar menulis segala bentuk tulisan dan menggerakan cerita-cerita pena pribadi yang susah tersampaikan. Blog ini juga saya persilakan untuk teman-teman yang hendak menuangkan gagasan-gagasan supernya. Tanpa bantuan kalian terutama bagi pembaca, blog seperti ini mati tak berpenghuni. Tulisan dan gagasan menarik kalian, saya tunggu di blog ini. Salam literasi.