Rabu, 27 Oktober 2021

PRANATA SOSIAL PADA MANUSIA MODERN DAN HAKIKAT ORIENTASI NILAI BUDAYA

 

Oleh: Andi Purnawan

Perkembangan teknologi dan informasi merupakan salah satu dampak dari zaman yang semakin berkembang serta kebutuhan-kebutuhan yang semakin meningkat. Teknologi mengalami kemajuan yang pesat di setiap harinya. Latar belakang perkembangan teknologi dan informasi salah satunya adalah teknologi merupakan sistem yang praktis dan sifatnya mempermudah segala urusan. Teknologi dan informasi saat ini tentu sudah menjadi bagian dari atribut sosial. Pesatnya perkembangan teknologi informasi tersebut tentu mempengaruhi perubahan pranata sosial di masyarakat. Pranata sosial sendiri menurut Sallatang dan Walinono (2018) merupakan sistem hubungan sosial yang terorganisir yang yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat.

Pranata sosial di masyarakat terbagi dalam beberapa jenis. Salah satu pranata sosial yang memperoleh pengaruh besar dari berkembangnya teknologi dan informasi adalah Educational Institutions. Educational institutions adalah pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan penerangan dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna. Hal tersebut didasari bahwa saat ini kebutuhan akan pengetahuan baik di lembaga formal maupun non formal bisa dengan mudah diperoleh kapanpun dan dimanapun, tidak terikat ruang dan waktu. Jejaring belajar online yang saat ini lebih dikenal dengan istilah e-learning, menjadikan transfer pengetahuan mudah diterima masyarakat apalagi melalui beragam media sosial yang bisa diakses oleh siapapun. Pada akhirnya, pesatnya perkembangan teknologi informasi memberikan dampak dalam tatanan pranata sosial khususnya bidang pendidikan. Kemudahan belajar merupakan dampak positif yang diterima masyarakat. Namun, tidak luput pula dampak negatif dari mudahnya akses informasi adalah minimya filterisasi berita pada masyarakat.

Pandangan mengenai Orientasi Nilai Budaya menurut Individu Modern dalam Kehidupan saat ini

Kluckhohn dalam Koentjaraningrat (2009) mengembangkan nilai budaya kedalam lima masalah yang paling mendasar dalam kehidupan manusia, diantaranya:a) masalah hakikat hidup, b) masalah hakikat dari karya manusia, c) masalah hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu, d) masalah hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya dan e) masalah hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya.

Menyangkut Hakikat Hidup

Di suatu daerah terdapat remaja dengan kasus bunuh diri dikarenakan ia merasa frustrasi. Menganggap kehidupannya penuh penderitaan dan hanya menyusahkan orang disekitarnya. Namun di sisi lain terdapat seorang pedagang keliling yang merasa beryukur akan kehidupannya walaupun hanya berjualan keliling yang pendapatannya tidak seberapa. Di sisi yang lain pula ada keluarga yang hidupnya begitu serba kekurangan namun mereka tetap optimis untuk menjalankan hidupnya.

Menyangkut Hakikat Karya

Ada kebudayaan yang memandang bahwa karya itu sebagai usaha untuk kelangsungan hidup semata. Sebagai contoh tukang kuli bangunan yang bekerja membangun rumah untuk menafkahi anak istrinya. Kemudian ada yang menganggap karya untuk mendapatkan status, jabatan dan kehormatan. Seperti pada kondisi saat ini sedang ramai-ramainya pemilihan kepala desa dimana setiap calon bekerja keras agar bisa dipilih oleh masyarakat. Lalu ada juga yang berpendapat bahwa karya untuk mempertinggi prestasi. Mereka ini berorientasi kepada prestasi bukan kepada status.

Hakikat Persepsi Manusia dengan Waktu

Terdapat tiga contoh orientasi persepsi manusia dengan waktu. Orientasi ke masa lalu contohnya orang tua biasanya menggunakan masa lalunya sebagai standar kepada fasiltas yang diberikan kepada anaknya. Orientasi di masa kini contohnya boros dan tidak melakukan manajemen keuangan. Terakhir, orientasi ke masa depan contohnya menabung untuk masa depan.

Hakikat Hubungan Manusia dengan Alam

Ada yang percaya bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kehidupan manusia. Sebaliknya ada yang menganggap alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia. Akan tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam. Cara pandang ini juga berpengaruh terhadap pola aktivitas masyarakat. Masyarakat pribumi pada umumnya menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga dan memanfaatkan alam sebaik mungkin, namun keadaan itu berbanding terbalik ketika banyak pendatang dari luar desa yang mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di desa seperti membuang limbah pabrik ke sungai, membabat hutan, mengeruk tanah dan lain sebagainya untuk kepentingan mereka sendiri.

Hakikat Hubungan Manusia dengan Sesamanya

Hakikat hubungan ini tampak dalam bentuk orientasi berfikir, cara bermusyawarah, mengambil keputusan dan bertindak. Kebudayaan yang menekankan hubungan horizontal (kolateral) antar individu, cenderung untuk mementingkan hak azasi, kemerdekaan dan kemandirian. Misalnya seperti terlihat dalam masyarakat di desa yang mengedepankan musyawarah dalam mencari solusi atas permasalahan yang ada di lingkungan. Sebaliknya kebudayaan yang menekankan hubungan vertikal cenderung untuk mengembangkan orientasi ke atas (kepada senior, penguasa atau pemimpin). Tentu saja pandangan ini sangat mempengaruhi proses dinamika dan mobilitas sosial masyarakatnya. Sebagai contoh ketika ada permasalahan antara warga di desa dengan pengembang kawasan pabrik, pada saat itu kepala desa dibutuhkan kehadirannya untuk memutuskan langkah yang akan diambil dalam penyelesaian masalah tersebut. Inti permasalahan disini siapa yang harus mengambil keputusan. Sistem hubungan vertikal keputusan dibuat oleh atasan (senior) untuk semua orang. Tetapi dalam  masyarakat  yang  mementingkan  kemandirian  individual,  maka  keputusan dibuat dan diarahkan kepada masing–masing individu.

 

Referensi:

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu anthropologi. Jakarta: Renika Cipta.

Sallatang, M.A. & Walinono, H. (2018). Pranata-pranata sosial dalam masyarakat pantai di Sulawesi Selatan. Jurnal Al-Qalam, 3(2), 45-48.