Senin, 26 Oktober 2020

REMAJA DENGAN INSECURITY-NYA

Oleh: Andi Purnawan

(Sumber Gambar: Elegant Themes)

Setiap orang memiliki naluri sebagai individu yang perasa. Berbagai aktivitas, keadaan, maupun fenomena sosial memengaruhi kondisi mental seseorang. Aktivitas yang mendukung dan sesuai dengan harapan tentu menimbulkan perasaan lega yang menyenangkan. Namun, hal tersebut tentu tidak akan berlangsung terus menerus. Kondisi sosial yang bertolak belakang dengan harapan kita tentu tidak bisa ditolak. Kondisi semacam itu terkadang membuat seseorang memiliki rasa insecurity. Insecurity atau istilah lainnya ketidakamanan terjadi di saat seseorang merasa khawatir, malu, dan tidak percaya diri yang berlebihan. Ketidakamanan tersebut tentu muncul di berbagai tahap golongan usia. Namun, rentang perkembangan yang mudah mengalami insecurity secara berlebihan adalah dari kalangan usia remaja.

Remaja merupakan masa dimana seseorang mencari jati diri dan ingin selalu memperoleh penerimaan di lingkungannya. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri yang burupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat (Hurlock, 2006). Hal tersebut dapat menimbulkan rasa insecurity jika lingkungan belum bisa menerima dirinya. Pada umumnya, kondisi remaja seperti ini sering dicap masyarakat sebagai orang yang mudah baperan. Saat seseorang mendengar ucapan tersebut, insecurity pada dirinya semakin bertambah, hal ini jika dibiarkan saja tentu sangat tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Bahkan terdapat pula kondisi dimana seseorang tidak bisa mengenali bahwa dirinya sedang merasakan ketidakamanan.

Penyebab insecurity pada seseorang khususnya remaja sangatlah beragam. Pertama, adanya trauma di masa lalu. Remaja yang pernah mengalami trauma di di masa lampaunya sering kali memiliki reaksi yang lebih intens ketika mereka merasa ada hal yang meningkatkan mereka atas masa lampaunya. Kedua, pergaulan yang buruk. Remaja yang baikyang baik bisa terbawa arus dan memaksakan diri mereka untuk bergaul yang didasari oleh gengsi, sehingga mereka tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Ketiga, ekspektasi yang tinggi. Terlalu overthinking dan menyalahkan dirinya sendiri jika harapan-harapan mereka tidak sesuai menyebabkan insecure. Keempat, komentar negatif. Banyak remaja yang menyakiti dirinya sendiri karena mendapat komentar dan kritikan negatif terhadap dirinya.

Insecurity yang mengendap lama dan malah dibiarkan hingga seseorang tidak mau keluar dari zona tersebut tentu berdampak serius terhadap kesehatan mentalnya. Seseorang yang merasa insecure berlebihan akan merasa rendah diri. Seseorang mejadi kurang percaya diri akan segala citra yang dimilikinya. Mengalami takut yang berlebihan sehingga seorang remaja akan membatasi diri dan menjadi pribadi yang anti sosial. Akibat lain yang dirasa seseorang yaitu sikap yang sering membandingkan diri dengan orang lain. Citra diri yang rendah menjadikan orang lain sebagai standar kesempurnaan. Saat seseorang merasa lebih buruk dengan orang lain maka tingkat insecure pada dirinya semakin meningkat. Dampak yang lebih serius akibat dari insecurity adalah memicu seseorang untuk bunuh diri. Hal tersebut didasari karena seseorang sudah tidak memiliki harapan kebahagiaan.

Mengatasi Insecurity

            Insecurity yang berlebihan yang tidak segera diatasi akan membentuk suatu mental illness. Mental illness tersebut merupakan penyakit mental yang serius dan dapat merenggut nyawa remaja. Sebelum mengatasi insecurity tentu kita harus mengerti dan benar-benar menyadari bahwa diri kita mengalami ketidakamanan. Kita sendiri yang harus mengenali semuanya. Sebab, status kesehatan mentalkita adalah tanggug jawab kita sendiri bukan bukan orang lain (Shinta, Widiantoro & Yosef, 2015). Lalu, bagaimana cara kita untuk mengatasi diri saat merasa insecurity?

            Saat seseorang mengalami insecure, hal utama yang perlu diingat adalah selalu bepikir positif. Berpikir positif membantu seseorang dalam memberikan sugesti positif pada diri saat menghadapi kegagalan, saat berperilaku tertentu, dan membangkitkan motivasi (Hill & Ritt, 2004). Berpikir positif juga dapat menjadi refleksi terhadap segala kondisi dan keadaan yang merupakan suatu proses pendewasaan bagi seorang remaja. Agaknya dengan begitu seseorang juga dapat berhenti menyalahkan keadaan bahkan dirinya sendiri serta tidak membandingkan diri dengan orang lain.

            Hindari orang-orang yang membuat insecure. Sosialisai memanglah penting, tapi menjaga diri dari orang-orang yang memicu ketidakamanan jiwa merupakan langkah yang perlu dilakukan. Tidak hanya di dunia nyata, namun mengurangi aktivitas di dunia maya serta menyaring hal-hal yang positif serta tidak perlu terlalu memikirkan komentar-komentar negatif dari orang lain adalah cara seseorang agar pikirannya tidak tertumpuk dengan pendapat-pendapat buruk dari orang lain. Selain itu, seorang remaja tidak bisa terus-terusan terkurung. Sebab itu, selalu lakukan hal yang membuat bahagia. Temukan kebahagiaan diri, karena dengan itu kondisi insecurity yang ada pada diri, perlahan akan meghilang tergantung motivasi yang ada dalam diri seseorang.

            Remaja merupakan fase antara anak-anak dan dewasa. Pencarian jati diri dan pengakuan orang lain merupakan salah satu tugas perkembangannya. Jangan sampai hanya karena faktor tertentu membuat seseorang menjadi insecure. Jika semasa remaja tidak mau keluar dari zona tersebut, tentu akan memengaruhi proses penghargaan dirinya kelak. Meningkatkan rasa percaya diri, mencari lingkungan yang mendukung, serta sering meminta pendapat dari orang-orang terdekat, akan menjadikan diri lebih kuat mental. Akhirnya, self love sangatlah penting sebagai benteng diri seseorang dalam menghalau segala pemicu hadirnya insecurity.

-----

Referensi:

Hill, N. & Ritt, M. J. (2004). Keys to Positive Thinking. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Hurlock, E. (2006). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Shinta, A., Widiantoro, W. & Yosef, L.G. (2015). Belajar menjadi pemimpin baik dalam organisasi dengan kepemimpinan buruk. Prosiding. Seminar Nasional Psikologi dan Kemanusiaan: Perkembangan Manusia dan Kesejahteraan Psikologi. Program Studi Magister Psikologi DPPS Universitas Muhammidayah Malang. 13-14 Januari 2015.