Kamis, 26 September 2024

KEMAMPUAN KOMUNIKASI PEMIMPIN LEVEL MENENGAH YANG BURUK: HARUSKAH KARYAWAN MENGUTUK?

 KEGIATAN LITERASI 

Andi Purnawan

Praktisi HR & Personal Development Mentor

Source of picture: osc.medcom.id, 2021

Berkomunikasi tidak sekadar berbicara, namun ada sesuatu yang akan disampaikan. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian (transformasi) informasi baik itu berupa pesan, ide, maupun  gagasan dari seseorang / sekelompok orang yang ditujukan kepada seseorang / sekelompok orang (Coates, 2009). Pada umumnya penyampaian informasi tersebut dilakukan secara lisan maupun tertulis yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila seseorang tidak dapat menulis / berbicara maka ia dapat menggunakan cara lain untuk menyampaikan pesannya yakni dengan bahasa isyarat seperti tersenyum, gerak-gerik tubuh, menggelengkan / menganggukkan kepala, dan gerakan lainnya. Bahkan bahasa isyarat juga bisa ditampakkan dengan cara seseorang menggunakan baju dengan warna tertentu dan model tertentu (Todorović, Čuden, Košak & Toporišič, 2017), model rambut tertentu (Mesko & Bereczkei, 2004), atau menggunakan asesori tertentu.

Permasalahan komunikasi yang sering dibahas adalah kurang lancarnya komunikasi dalam lingkup organisasi / tempat bekerja. Bisa ditebak, proses komunikasi yang tidak efektif terjadi antara atasan dan atasan, atasan dan bawahan, serta bawahan dan bawahan. Perbedaan strata para aktor dalam organisasi menyebabkan mereka mempunyai ‘bahasa’ yang berbeda. Atasan mempunyai ‘bahasa’ yang menyiratkan tingginya kekuasaannya sehingga ia bisa menentukan nasib para timnya. Semua itu bisa tercermin dalam perilakunya ketika berkomunikasi  dengan tim atau antar-divisi. Tim menjadi merasa tidak punya harga diri, namun tidak berani keluar dari organisasi / mencari pekerjaan lainnya. Bila situasi manajemen pada organisasi buruk ini berlarut-larut, maka taruhannya adalah menurunnya kesehatan mental karyawan yang setia dan karyawan yang percaya diri akan segera keluar kemudian mencari pekerjaan lain. Dampak  selanjutnya  adalah  jumlah  Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersisa (setia) sangat tidak memadai dibandingkan dengan jumlah tugas yang harus diselesaikan. Akhirnya efisiensi pekerjaan akan menurun dan ironinya organisasi akan tutup karena para karyawannya tidak mampu bekerja dengan optimal (Ugwuzor, 2017).

Jadi dalam tulisan ini, persoalan yang akan dibahas adalah bagaimana strategi karyawan untuk mempertahankan status kesehatan mentalnya agar tetap sehat, ketika ia berada dalam organisasi dengan atasan yang cara berkomunikasinya sangat buruk. Kajian tentang usaha-usaha karyawan ini penting, karena dua alasan (Shinta, Widiantoro & Yosef, 2015). Pertama, karyawan adalah ujung tombak dari organisasi. Hal ini berarti karyawan yang sehat mentalnya akan merujuk pada organisasi yang juga sehat. Alasan kedua, karyawan berada dalam posisi subordinat sedangkan posisi pimpinan adalah superior. Orang-orang yang subordinat mempunyai lebih sedikit alternatif solusi bila menemui permasalahan daripada orang-orang superior, karena keberadaan sumber-sumber yang terbatas. Jadi tulisan ini lebih berpihak pada karyawan daripada pimpinan.

Pembahasan ini menarik karena persoalan komunikasi dalam organisasi ini terjadi pada pemimpin / atasan pada level menengah. Pada umumnya, pembahasan problem komunikasi terjadi pada pimpinan level tertinggi (Shinta et al., 2015). Pimpinan tertinggi yang bermasalah dalam hal perilaku dan komunikasi sering membuat para karyawan menjadi kebingungan, namun para karyawan tersebut cenderung untuk tidak segera keluar dari organisasi. Hal ini karena karyawan tidak setiap hari bertemu dengan pimpinan tertinggi. Pada pemimpin level menengah, seperti koordinator / mandor, perilaku / cara mereka berkomunikasi buruk sering membuat para karyawan tidak nyaman dan para karyawan cenderung berniat untuk keluar dari organisasi. Hal ini karena para karyawan hampir setiap hari bertemu dengan pimpinan level menengah. Pimpinan level menengah ini pada mulanya adalah karyawan biasa / rekan kerja karyawan, namun karena berprestasi bagus mereka diangkat menjadi pimpinan level menengah. Jadi pada awalnya, karyawan tersebut hanya mengurus prestasi kerjanya sendiri. Setelah diangkat menjadi pimpinan level menengah, maka mendadak tanggung jawabnya menjadi besar dan harus mengurus sekelompok karyawan dengan berbagai kepribadian yang berbeda-beda. Perbedaan ini kadangkala membuat pimpinan level menengah menjadi canggung. Para karyawan juga kebingungan dan merasa tidak sopan bila mengingatkan bekas rekan kerjanya akan pola komunikasinya yang canggung tersebut (Khurgin, 2016).

Apa yang bisa dilakukan karyawan ketika organisasi masa depan sudah berubah  pengelolaannya namun gaya komunikasi pimpinan masih tetap buruk? Usaha-usaha apa saja yang bisa dilakukan oleh sekolah dan perguruan tinggi untuk mempersiapkan SDM dalam menghadapi organisasi masa depan?”. Pada masa depan, organisasi akan berubah menjadi lebih kompleks bahkan bisa dikendalikan di rumah saja, lebih datar dalam struktur orgnisasinya, bahan produk harus bersertifikat pro-lingkungan hidup, dan produknya bisa dikirim ke seluruh dunia dengan mudah, murah dan cepat. Selain itu, karakteristik karyawan akan lebih bervariasi dalam hal etnis, bahasa, gender, dan agama (Riggio, 2003). Oleh karena itu karyawan yang setia pada organisasi meskipun pemimpinnya mempunyai pola komunikasi buruk, perlu memiliki ketrampilan-ketrampilan tertentu (Abbajay, 2018).

Ketrampilan pertama, pola komunikasi karyawan perlu diubah dari pemberian masukan menjadi pemberian persyaratan (make request). Bila pimpinan memberi instruksi, maka karyawan bersedia melakukan instruksi tersebut namun dengan berbagai persyaratan atau bahkan usulan yang membangun. Pimpinan menjadi tidak bisa sewenang-wenang memerintahkan suatu tugas dan alur komunikasi bisa jelas. Kedua, karyawan hendaknya membangun dukungan sosial yang kokoh dengan karyawan setia lainnya. Dukungan sosial ini akan menyehatkan mental. Ketiga, usaha-usaha menyehatkan fisik juga sangat penting. Oleh karena itu karyawan dianjurkan untuk sering berolah raga dan jumlah jam tidur hendaknya memadai. Keempat, karyawan bisa menjelajah kemungkinan untuk rotasi ke devisi lainnya yang mana pemimpinnya mempunyai pola komunikasi yang lebih baik. Kelima, karyawan melanjutkan pendidikannya atau minimal sering mengikuti pelatihan, workshop, bootcamp, atau serifikasi lainnya sehingga pengetahuan dan relasi sosialnya semakin luas dan portofolio kerjanya juga bertambah banyak. Hal ini penting bila situasi kerja bertambah genting maka karyawan bisa langsung keluar dari organisasinya.

Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan tentang bagaimana strategi karyawan untuk mempertahankan status kesehatan mentalnya agar tetap sehat, ketika ia berada dalam organisasi dengan atasan yang cara berkomunikasinya sangat buruk. Pilihan yang paling mudah dan kategorinya impulsif adalah keluar dari organisasi. Hal ini karena jarang ada karyawan apalagi yang masih muda usianya, belum berkeluarga, dan berkemampuan tinggi, mempunyai kesabaran yang tinggi berhadapan dengan manajer yang pola komunikasinya buruk. Bila karyawan memutuskan untuk tetap setia pada organisasi buruk terebut, maka mereka harus mempunyai strategi jitu untuk memelihara kesehatan mentalnya. Strategi tersebut adalah memperkuat kemampuan dan ketrampilannya.

Referensi:

Abbajay, M. (2018). What to do when you have a bad boss. Harvard Business Review. September07. Retrieved  from  https://hbr.org/2018/09/what-to-do-when-you-have-a-bad-boss

Coates, G.T. (2009). Notes on communication: A few thoughts about the way we interactwith the people we meet. Free e-book from www.wanterfall.com

Khurgin, A. (2016). Good manager, bad manager: New research on the modern management deficit and how to train you way out of it. Grovo. http://a1.grovo.com/asset/whitepapers/good-managers-bad-managers.pdf

Mesko, N. & Bereczkei, T. (2004). Hairstsyle as an adaptive means of displaying phenotypicquality. Human Nature. 15(3), 251-270.

Riggio, R. E. (2003). Introduction to industrial / organizational psychology. New Jersey: Upper Saddle River.

Shinta, A., Widiantoro, W. & Yosef, L.G. (2015). Belajar menjadi pemimpin baik dalam organisasi dengan kepemimpinan buruk. Prosiding Seminar Nasional Psikologi dan Kemanusiaan: Perkembangan Manusia dan Kesejahteraan Psikologi. Program Studi Magister Psikologi DPPS Universitas Muhammidayah Malang. 13-14 Januari 2015. http://mpsi.umm.ac.id/files/file/37-45%20Arundati.pdf

Todorović, T.; Čuden, A.P.; Košak, K. & Toporišič, T. (2017). Language of dressing as acommunication system and its functions–Roman Jakobson’s Linguistic Method. Fibres & Textiles in Eastern Europe. 25, 5(125): 125-33. DOI:10.5604/01.3001.0010.4620.

Ugwuzor, M. (2017). Survivor behavior management and organizational survival. IRACST-International Journal of Commerce, Business and Management (IJCBM). 6(6), 22-30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar