KEGIATAN LITERASI
Andi Purnawan
Praktisi HR & Personal Development Mentor
Berkomunikasi tidak sekadar berbicara, namun ada sesuatu yang
akan disampaikan. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian (transformasi)
informasi baik itu berupa pesan, ide, maupun
gagasan dari seseorang / sekelompok orang yang ditujukan kepada
seseorang / sekelompok orang (Coates, 2009). Pada umumnya penyampaian informasi
tersebut dilakukan secara lisan maupun tertulis yang dapat dimengerti oleh
kedua belah pihak. Apabila seseorang tidak dapat menulis / berbicara maka ia
dapat menggunakan cara lain untuk menyampaikan pesannya yakni dengan bahasa isyarat
seperti tersenyum, gerak-gerik tubuh, menggelengkan / menganggukkan kepala, dan
gerakan lainnya. Bahkan bahasa isyarat juga bisa ditampakkan dengan cara
seseorang menggunakan baju dengan warna tertentu dan model tertentu (Todorović,
Čuden, Košak & Toporišič, 2017), model rambut tertentu (Mesko &
Bereczkei, 2004), atau menggunakan asesori tertentu.
Permasalahan komunikasi yang sering dibahas adalah kurang
lancarnya komunikasi dalam lingkup organisasi / tempat bekerja. Bisa ditebak,
proses komunikasi yang tidak efektif terjadi antara atasan dan atasan, atasan
dan bawahan, serta bawahan dan bawahan. Perbedaan strata para aktor dalam
organisasi menyebabkan mereka mempunyai ‘bahasa’ yang berbeda. Atasan mempunyai
‘bahasa’ yang menyiratkan tingginya kekuasaannya sehingga ia bisa menentukan
nasib para timnya. Semua itu bisa tercermin dalam perilakunya ketika
berkomunikasi dengan tim atau
antar-divisi. Tim menjadi merasa tidak punya harga diri, namun tidak berani
keluar dari organisasi / mencari pekerjaan lainnya. Bila situasi manajemen pada
organisasi buruk ini berlarut-larut, maka taruhannya adalah menurunnya
kesehatan mental karyawan yang setia dan karyawan yang percaya diri akan segera
keluar kemudian mencari pekerjaan lain. Dampak
selanjutnya adalah jumlah
Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersisa (setia) sangat tidak memadai dibandingkan
dengan jumlah tugas yang harus diselesaikan. Akhirnya efisiensi pekerjaan akan
menurun dan ironinya organisasi akan tutup karena para karyawannya tidak mampu
bekerja dengan optimal (Ugwuzor, 2017).
Jadi dalam tulisan ini, persoalan yang akan dibahas adalah bagaimana strategi karyawan untuk
mempertahankan status kesehatan mentalnya agar tetap sehat, ketika ia berada dalam
organisasi dengan atasan yang cara berkomunikasinya sangat buruk. Kajian tentang
usaha-usaha karyawan ini penting, karena dua alasan (Shinta, Widiantoro &
Yosef, 2015). Pertama, karyawan adalah ujung tombak dari organisasi. Hal ini
berarti karyawan yang sehat mentalnya akan merujuk pada organisasi yang juga
sehat. Alasan kedua, karyawan berada dalam posisi subordinat sedangkan posisi
pimpinan adalah superior. Orang-orang yang subordinat mempunyai lebih sedikit
alternatif solusi bila menemui permasalahan daripada orang-orang superior,
karena keberadaan sumber-sumber yang terbatas. Jadi tulisan ini lebih berpihak
pada karyawan daripada pimpinan.
Pembahasan ini menarik karena persoalan komunikasi dalam
organisasi ini terjadi pada pemimpin / atasan pada level menengah. Pada
umumnya, pembahasan problem komunikasi terjadi pada pimpinan level tertinggi
(Shinta et al., 2015). Pimpinan tertinggi yang bermasalah dalam hal perilaku
dan komunikasi sering membuat para karyawan menjadi kebingungan, namun para
karyawan tersebut cenderung untuk tidak segera keluar dari organisasi. Hal ini
karena karyawan tidak setiap hari bertemu dengan pimpinan tertinggi. Pada
pemimpin level menengah, seperti koordinator / mandor, perilaku / cara mereka
berkomunikasi buruk sering membuat para karyawan tidak nyaman dan para karyawan
cenderung berniat untuk keluar dari organisasi. Hal ini karena para karyawan
hampir setiap hari bertemu dengan pimpinan level menengah. Pimpinan level
menengah ini pada mulanya adalah karyawan biasa / rekan kerja karyawan, namun
karena berprestasi bagus mereka diangkat menjadi pimpinan level menengah. Jadi
pada awalnya, karyawan tersebut hanya mengurus prestasi kerjanya sendiri.
Setelah diangkat menjadi pimpinan level menengah, maka mendadak tanggung
jawabnya menjadi besar dan harus mengurus sekelompok karyawan dengan berbagai
kepribadian yang berbeda-beda. Perbedaan ini kadangkala membuat pimpinan level
menengah menjadi canggung. Para karyawan juga kebingungan dan merasa tidak
sopan bila mengingatkan bekas rekan kerjanya akan pola komunikasinya yang
canggung tersebut (Khurgin, 2016).
Apa yang bisa dilakukan karyawan ketika organisasi masa depan
sudah berubah pengelolaannya namun gaya
komunikasi pimpinan masih tetap buruk? Usaha-usaha apa saja yang bisa dilakukan
oleh sekolah dan perguruan tinggi untuk mempersiapkan SDM dalam menghadapi
organisasi masa depan?”. Pada masa depan, organisasi akan berubah menjadi lebih
kompleks bahkan bisa dikendalikan di rumah saja, lebih datar dalam struktur
orgnisasinya, bahan produk harus bersertifikat pro-lingkungan hidup, dan
produknya bisa dikirim ke seluruh dunia dengan mudah, murah dan cepat. Selain
itu, karakteristik karyawan akan lebih bervariasi dalam hal etnis, bahasa,
gender, dan agama (Riggio, 2003). Oleh karena itu karyawan yang setia pada
organisasi meskipun pemimpinnya mempunyai pola komunikasi buruk, perlu memiliki
ketrampilan-ketrampilan tertentu (Abbajay, 2018).
Ketrampilan pertama, pola komunikasi karyawan perlu diubah dari
pemberian masukan menjadi pemberian persyaratan (make request). Bila pimpinan memberi instruksi, maka karyawan
bersedia melakukan instruksi tersebut namun dengan berbagai persyaratan atau
bahkan usulan yang membangun. Pimpinan menjadi tidak bisa sewenang-wenang
memerintahkan suatu tugas dan alur komunikasi bisa jelas. Kedua, karyawan
hendaknya membangun dukungan sosial yang kokoh dengan karyawan setia lainnya.
Dukungan sosial ini akan menyehatkan mental. Ketiga, usaha-usaha menyehatkan
fisik juga sangat penting. Oleh karena itu karyawan dianjurkan untuk sering
berolah raga dan jumlah jam tidur hendaknya memadai. Keempat, karyawan bisa menjelajah
kemungkinan untuk rotasi ke devisi lainnya yang mana pemimpinnya mempunyai pola
komunikasi yang lebih baik. Kelima, karyawan melanjutkan pendidikannya atau
minimal sering mengikuti pelatihan, workshop, bootcamp, atau serifikasi lainnya sehingga pengetahuan dan relasi
sosialnya semakin luas dan portofolio kerjanya juga bertambah banyak. Hal ini
penting bila situasi kerja bertambah genting maka karyawan bisa langsung keluar
dari organisasinya.
Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan tentang bagaimana
strategi karyawan untuk mempertahankan status kesehatan mentalnya agar tetap
sehat, ketika ia berada dalam organisasi dengan atasan yang cara
berkomunikasinya sangat buruk. Pilihan yang paling mudah dan kategorinya
impulsif adalah keluar dari organisasi. Hal ini karena jarang ada karyawan apalagi
yang masih muda usianya, belum berkeluarga, dan berkemampuan tinggi, mempunyai
kesabaran yang tinggi berhadapan dengan manajer yang pola komunikasinya buruk.
Bila karyawan memutuskan untuk tetap setia pada organisasi buruk terebut, maka
mereka harus mempunyai strategi jitu untuk memelihara kesehatan mentalnya. Strategi
tersebut adalah memperkuat kemampuan dan ketrampilannya.
Referensi:
Abbajay, M. (2018). What to do when
you have a bad boss. Harvard Business
Review. September07. Retrieved
from https://hbr.org/2018/09/what-to-do-when-you-have-a-bad-boss
Coates, G.T. (2009). Notes on communication: A few thoughts about
the way we interactwith the people we meet. Free e-book from www.wanterfall.com
Khurgin, A. (2016). Good manager, bad
manager: New research on the modern management deficit and how to train you way
out of it. Grovo. http://a1.grovo.com/asset/whitepapers/good-managers-bad-managers.pdf
Mesko, N. & Bereczkei, T. (2004).
Hairstsyle as an adaptive means of displaying phenotypicquality. Human Nature. 15(3), 251-270.
Riggio, R. E. (2003). Introduction to industrial / organizational
psychology. New Jersey: Upper Saddle River.
Shinta, A., Widiantoro, W. &
Yosef, L.G. (2015). Belajar menjadi pemimpin baik dalam organisasi dengan
kepemimpinan buruk. Prosiding Seminar
Nasional Psikologi dan Kemanusiaan: Perkembangan Manusia dan Kesejahteraan
Psikologi. Program Studi Magister Psikologi DPPS Universitas Muhammidayah
Malang. 13-14 Januari 2015. http://mpsi.umm.ac.id/files/file/37-45%20Arundati.pdf
Todorović, T.; Čuden, A.P.; Košak, K.
& Toporišič, T. (2017). Language of dressing as acommunication system and its
functions–Roman Jakobson’s Linguistic Method. Fibres & Textiles in Eastern Europe. 25, 5(125): 125-33. DOI:10.5604/01.3001.0010.4620.
Ugwuzor, M. (2017). Survivor behavior
management and organizational survival. IRACST-International
Journal of Commerce, Business and Management (IJCBM). 6(6), 22-30.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar