Ketika
Hubungan Sudah Tidak Lagi Menghubungkan
Oleh : Andi Purnawan
Usia dewasa adalah usia yang ditandai
dengan matangnya organ tubuh serta fisik dan juga psikis yang semakin
berkembang dalam pola berpikir. Matangnya psikis seseorang dapat dirasakan pada
usia 20-an tahun. Usia tersebut memiliki tugas perkembangan salah satunya
kebutuhan dalam membangun intimasi atau kedekatan. Kedekatan tersebut bisa berupa
teman, sahabat, partner kerja,
pasangan kekasih, dan juga suami-istri. Mengingat manusia adalah makhluk sosial
yang saling membutuhkan, dalam hal ini tidak terkecuali kebutuhan akan kasih sayang.
Maka dari itu membangun suatu hubungan adalah salah satu cara agar tercapainya kedekatan
yang nantinya menjadikan pasangan saling keterkaitan yang hangat dan tercapai
kebutuhan-kebutuhannya. Saling mengenal dan mengerti pasangan merupakan langkah
yang harus ada dalam membangun suatu hubungan. Hal tersebut guna menciptakan
hubungan yang sehat. Jangan sampai dalam hubungan terdapat racun-racun yang
cenderung membuat hubungan tidak sehat atau yang trend sekarang disebut dengan toxic love relationship.
Toxic
love relationship atau
singkat dikenal dengan toxic relationship
adalah sebuah kondisi yang mana hubungan percintaan bisa merugikan salah satu
pihak (Taufik, 2019). Entah yang masih pacaran atau yang sudah menikah. Hubungan
beracun membuat satu pihak dari pasangan merasa sangat terganggu dan tidak
nyaman. “Itu sangat mengganggu sekali, tidak
harus sudah dalam komitmen, tapi masih belum ada komitmen buat pacaran pun
sudah bisa terjadi…”, opini dari Retno Pertiwi salah satu mahasiswi
Kehutanan UGM. Perempuan yang berusia 21 tahun tersebut juga menyebutkan contoh
kondisi atau perlakuan dalam hubungan beracun yang dialami seseorang dari
pasangannnya. “… Kaya misal terlalu
banyak mengatur, overprotective, tarik ulur sembarangan, dan masih banyak lagi”
ungkapnya. Namun, pada sejumlah orang tidak menyadari bahwa hubungannya
terdapat toxic. Dampak yang ditimbulkan jika seseorang tidak mengenali
tanda-tanda toxic relationship yaitu seseorang
cenderung terkurung dan melanjutkan hubungannya yang tidak sehat itu. Tentu hal
semacam itu harus dihindari agar kesehatan mental kita juga tetap terjaga. Kita
sendiri yang harus mengenali semuanya. Sebab, status kesehatan mental kita
adalah tanggung jawab kita sendiri bukan orang lain (Shinta, Widiantoro &
Yosef, 2015).
Tanda-tanda toxic relationship sangatlah kompleks, mengingat situasi dan
kondisi yang tiap hari berubah. Lalu apa tanda-tandanya? Pada tulisan ini
terdapat enam tanda-tanda toxic
relationship yang dapat kita pakai untuk mengantisipasinya.
(1). Menyalahkan emosi negatif diri kita atas pasangan kita. Pasangan
cenderung menghakimi sikapnya yang seolah-olah disebabkan oleh kita sebagai
pasangannya. Kalimat yang biasa ia lontarkan adalah “aku itu seperti ini gara-gara perilaku mu yang begitu.”
(2). Menunjukkan kecemburuan secara berlebihan. Cemburu merupakan
ekspresi sayang dan takut kehilangan seseorang terhadap pasangannya, akan
tetapi hal tersebut tentu membuat ketidaknyamanan.
(3). Pasangan membatasi ruang gerak kita. Sikap tersebut membuat kita
seperti terkurung. Fenomena berhubungan seperti itu cenderung pasangan mengikat
apa-apa, dimana dan kemana harus dengan pasangan. Pada kenyataannya dalam
beraktivitas tentu kita bersosialisasi dan membutuhkan lebih dari satu orang.
(4). Tidak ingin pasangan lebih hebat darinya. Mulai tumbuh sikap
kompetitif yang tidak sehat. Misalnya, si cowok tidak mau ceweknya lebih sukses
darinya atau sebaliknya si cewek tidak mau cowoknya lebih pintar darinya.
(5). Terdapat kode-kode. Dalam hal ini hubungan terkesan buruk dalam
komunikasi dan menuntut pasangan selalu bisa peka.
(6). Terdapat password di antara
pasangan. Sama halnya nomor 5, keterbukaan dan komunikasi pasangan mulai
pudar. Semua media sosial dijaga ketat dan tidak boleh pasangan mengetahui
isinya.
Tanda-tanda toxic love relationship
perlu dimengerti agar jika dalam hubungan kita terdapat racun, kita dapat
segera mengatasinya. Bagaimana cara mengatasi toxic relationship? Tidak ada buku
atau referensi khusus yang mengulas cara menjadi istri yang sempurna, cara
menjadi suami yang baiik, cara membuat hubungan selalu harmonis. Tidak ada
manusia yang diciptakan dengan satu kepribadian yang sama. Empati dan
kecerdasan emosi sangatlah penting. Saling memahami dan mengerti kondisi
pasangan adalah sikap yang dewasa. Kunci dari semuanya adalah komunikasi.
Komunikasi yang buruk akan membuat suatu hubungan yang tidak menentu. Mulailah
dari diri kita untuk berbicara pelan dengan pasangan. Jika dirasa memiliki
keinginan dari pasangan, bicarakan dengan empati dan tahu kondisi. Jika
pasangan atau bahkan dalam hubungan terdapat kekurangan maka bagaimana kita
bisa bicara baik-baik agar nantinya tidak saling menyakiti.
Suatu hubungan hendaklah berusaha dalam
menuju ke arah yang lebih dewasa. Kita butuh memahami bagaimana memberikan
versi terbaik kita terhadap pasangan. Kenapa kita harus cemburu kalau kita
dalam kondisi aman? Ekspektasi dengan persepsi akan selalu jadi mis-komunikasi.
Dalam hubungan yang mengandung racun atau toxic relationship sebenarya adalah
ujian pendewasaan kita bersama. Jika bisa kita perbaiki, apa salahnya kita
pertahankan. Jika berakhir adalah jalan terbaik, semoga setelah ini kita dapat
intropeksi dan menjadikan sesuatu yang merefleksikan kita ke arah yang lebih
baik ke depannya.
Referensi:
Shinta, A., Widiantoro,
W. & Yosef, L.G. (2015). Belajar menjadi pemimpin baik dalam organisasi
dengan kepemimpinan buruk. Prosiding.
Seminar Nasional Psikologi dan Kemanusiaan: Perkembangan Manusia dan
Kesejahteraan Psikologi. Program Studi Magister Psikologi DPPS Universitas
Muhammidayah Malang. 13-14 Januari 2015.
Taufik. (2019). Tiga Setia Gara: Bucin dan Toxic Love
Relationship. Mojok.Co. Retrivied on July 11, 2020 from:
https://mojok.co/terminal/tiga-setia-gara-bucin-dan-toxic-love-relationship/
