Sabtu, 11 Juli 2020

FENOMENA TOXIC LOVE RELATIONSHIP


Ketika Hubungan Sudah Tidak Lagi Menghubungkan

Oleh : Andi Purnawan


Usia dewasa adalah usia yang ditandai dengan matangnya organ tubuh serta fisik dan juga psikis yang semakin berkembang dalam pola berpikir. Matangnya psikis seseorang dapat dirasakan pada usia 20-an tahun. Usia tersebut memiliki tugas perkembangan salah satunya kebutuhan dalam membangun intimasi atau kedekatan. Kedekatan tersebut bisa berupa teman, sahabat, partner kerja, pasangan kekasih, dan juga suami-istri. Mengingat manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, dalam hal ini tidak terkecuali kebutuhan akan kasih sayang. Maka dari itu membangun suatu hubungan adalah salah satu cara agar tercapainya kedekatan yang nantinya menjadikan pasangan saling keterkaitan yang hangat dan tercapai kebutuhan-kebutuhannya. Saling mengenal dan mengerti pasangan merupakan langkah yang harus ada dalam membangun suatu hubungan. Hal tersebut guna menciptakan hubungan yang sehat. Jangan sampai dalam hubungan terdapat racun-racun yang cenderung membuat hubungan tidak sehat atau yang trend sekarang disebut dengan toxic love relationship.
Toxic love relationship atau singkat dikenal dengan toxic relationship adalah sebuah kondisi yang mana hubungan percintaan bisa merugikan salah satu pihak (Taufik, 2019). Entah yang masih pacaran atau yang sudah menikah. Hubungan beracun membuat satu pihak dari pasangan merasa sangat terganggu dan tidak nyaman. “Itu sangat mengganggu sekali, tidak harus sudah dalam komitmen, tapi masih belum ada komitmen buat pacaran pun sudah bisa terjadi…”, opini dari Retno Pertiwi salah satu mahasiswi Kehutanan UGM. Perempuan yang berusia 21 tahun tersebut juga menyebutkan contoh kondisi atau perlakuan dalam hubungan beracun yang dialami seseorang dari pasangannnya. “… Kaya misal terlalu banyak mengatur, overprotective, tarik ulur sembarangan, dan masih banyak lagi” ungkapnya. Namun, pada sejumlah orang tidak menyadari bahwa hubungannya terdapat toxic. Dampak yang ditimbulkan jika seseorang tidak mengenali tanda-tanda toxic relationship yaitu seseorang cenderung terkurung dan melanjutkan hubungannya yang tidak sehat itu. Tentu hal semacam itu harus dihindari agar kesehatan mental kita juga tetap terjaga. Kita sendiri yang harus mengenali semuanya. Sebab, status kesehatan mental kita adalah tanggung jawab kita sendiri bukan orang lain (Shinta, Widiantoro & Yosef, 2015).
Tanda-tanda toxic relationship sangatlah kompleks, mengingat situasi dan kondisi yang tiap hari berubah. Lalu apa tanda-tandanya? Pada tulisan ini terdapat enam tanda-tanda toxic relationship yang dapat kita pakai untuk mengantisipasinya.
(1). Menyalahkan emosi negatif diri kita atas pasangan kita. Pasangan cenderung menghakimi sikapnya yang seolah-olah disebabkan oleh kita sebagai pasangannya. Kalimat yang biasa ia lontarkan adalah “aku itu seperti ini gara-gara perilaku mu yang begitu.”
(2). Menunjukkan kecemburuan secara berlebihan. Cemburu merupakan ekspresi sayang dan takut kehilangan seseorang terhadap pasangannya, akan tetapi hal tersebut tentu membuat ketidaknyamanan.
(3). Pasangan membatasi ruang gerak kita. Sikap tersebut membuat kita seperti terkurung. Fenomena berhubungan seperti itu cenderung pasangan mengikat apa-apa, dimana dan kemana harus dengan pasangan. Pada kenyataannya dalam beraktivitas tentu kita bersosialisasi dan membutuhkan lebih dari satu orang.
(4). Tidak ingin pasangan lebih hebat darinya. Mulai tumbuh sikap kompetitif yang tidak sehat. Misalnya, si cowok tidak mau ceweknya lebih sukses darinya atau sebaliknya si cewek tidak mau cowoknya lebih pintar darinya.
(5). Terdapat kode-kode. Dalam hal ini hubungan terkesan buruk dalam komunikasi dan menuntut pasangan selalu bisa peka.
(6). Terdapat password di antara pasangan. Sama halnya nomor 5, keterbukaan dan komunikasi pasangan mulai pudar. Semua media sosial dijaga ketat dan tidak boleh pasangan mengetahui isinya.
     Tanda-tanda toxic love relationship perlu dimengerti agar jika dalam hubungan kita terdapat racun, kita dapat segera mengatasinya. Bagaimana cara mengatasi toxic relationship? Tidak ada buku atau referensi khusus yang mengulas cara menjadi istri yang sempurna, cara menjadi suami yang baiik, cara membuat hubungan selalu harmonis. Tidak ada manusia yang diciptakan dengan satu kepribadian yang sama. Empati dan kecerdasan emosi sangatlah penting. Saling memahami dan mengerti kondisi pasangan adalah sikap yang dewasa. Kunci dari semuanya adalah komunikasi. Komunikasi yang buruk akan membuat suatu hubungan yang tidak menentu. Mulailah dari diri kita untuk berbicara pelan dengan pasangan. Jika dirasa memiliki keinginan dari pasangan, bicarakan dengan empati dan tahu kondisi. Jika pasangan atau bahkan dalam hubungan terdapat kekurangan maka bagaimana kita bisa bicara baik-baik agar nantinya tidak saling menyakiti.
Suatu hubungan hendaklah berusaha dalam menuju ke arah yang lebih dewasa. Kita butuh memahami bagaimana memberikan versi terbaik kita terhadap pasangan. Kenapa kita harus cemburu kalau kita dalam kondisi aman? Ekspektasi dengan persepsi akan selalu jadi mis-komunikasi. Dalam hubungan yang mengandung racun atau toxic relationship sebenarya adalah ujian pendewasaan kita bersama. Jika bisa kita perbaiki, apa salahnya kita pertahankan. Jika berakhir adalah jalan terbaik, semoga setelah ini kita dapat intropeksi dan menjadikan sesuatu yang merefleksikan kita ke arah yang lebih baik ke depannya.

Referensi:
Shinta, A., Widiantoro, W. & Yosef, L.G. (2015). Belajar menjadi pemimpin baik dalam organisasi dengan kepemimpinan buruk. Prosiding. Seminar Nasional Psikologi dan Kemanusiaan: Perkembangan Manusia dan Kesejahteraan Psikologi. Program Studi Magister Psikologi DPPS Universitas Muhammidayah Malang. 13-14 Januari 2015.
Taufik. (2019). Tiga Setia Gara: Bucin dan Toxic Love Relationship. Mojok.Co. Retrivied on July 11, 2020 from:
https://mojok.co/terminal/tiga-setia-gara-bucin-dan-toxic-love-relationship/